SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menyoroti dampak kemacetan akibat perbaikan Jembatan Sei Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21. Ia meminta kontraktor atau penyedia jasa yang mengerjakan proyek tersebut untuk memperkokoh jalan dan jembatan alternatif agar arus lalu lintas tetap lancar.

“Bagaimana supaya bisa lancar, maka kami minta penyedia jasa atau kontraktornya untuk bisa memperkokoh jalan dan jembatan alternatif yang ada. Sehingga tidak ada lagi kemacetan seperti yang terjadi saat ini,” kata Rimbun, Selasa, 19 Agustus 2025.

Menurutnya, saat pembongkaran Jembatan Sei Lenggana terjadi kemacetan berjam-jam. Bahkan ketika terjadi insiden amblas atau jembatan alternatif berlubang, kemacetan bisa mencapai 3-12 jam.

Kondisi tersebut berdampak pada perputaran ekonomi dan aktivitas warga, khususnya pengguna jalan yang melintas dari Kabupaten Kotim menuju Kotawaringin Barat, Lamandau, Sukamara hingga Kalimantan Barat atau sebaliknya.

“Ini kewenangan Balai Pelaksana Jalan Nasional Kalimantan Tengah. Namun, kami berharap penyedia jasa bisa mengantisipasi dampak ini agar masyarakat tidak dirugikan,” tandasnya.

Adapun proyek Jembatan Lenggana tersebut berdasarkan keterangan PPK 1.3 Balai Jalan Nasional Kalimantan Tengah Marhara Tua, akan berlangsung hingga 3 Desember 2025. Sementara jalan dan jembatan alternatif hanya mampu dilalui satu jalur, sehingga diterapkan sistem buka tutup jalan. Kemampuan jembatan alternatif pun hanya 8 ton. (DEWI PATMALASARI/j)