BORNEONEWS, Sampit – Universitas Muhammadiyah Sampit (UMSA) terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan mengusulkan delapan program studi (Prodi) baru dan satu fakultas baru.
“Kami dalam proses pengusulan 8 Prodi dan satu fakultas baru,” kata Rektor UMSA, Ramadansyah, Kamis, 21 Agustus 2025.
Prodi yang diusulkan antara lain S1 Kebidanan, S1 Keperawatan, S1 Pendidikan Guru PAUD, S1 Pendidikan Guru SD, dan Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak. Selain itu, UMSA juga mengajukan Fakultas Agama Islam yang akan menaungi Prodi Pendidikan Agama Islam, Prodi Hukum Keluarga Islam, serta S2 Guru Agama Islam.
Saat ini, UMSA sudah memiliki 8 Prodi yang tersebar di 3 fakultas. Fakultas Kesehatan memiliki Prodi D3 Kebidanan dan S1 Gizi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memiliki 4 Prodi, yaitu Bimbingan Konseling, Matematika, Bahasa Inggris, dan Ekonomi. Sedangkan Fakultas Teknik dan Pertanian memiliki Prodi Agribisnis dan Teknik Informatika.
Ramadansyah menjelaskan, pengusulan S1 Kebidanan dan S1 Keperawatan dilakukan tidak hanya untuk mendukung rencana pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah di Kotim. Melainkan juga menjawab kebutuhan tenaga kesehatan yang saat ini banyak harus melanjutkan studi keluar daerah.
“Saat ini ada D3 Kebidanan. Insya Allah akan ada S1 Kebidanan dan S1 Keperawatan. Kita tahu teman-teman yang sudah D3 wajib melanjutkan ke S1 untuk profesi. Kami ingin mereka tidak harus jauh keluar daerah,” ujarnya.
Salah satu pengusulan yang menarik perhatian adalah Prodi Pendidikan Seni Budaya Dayak, yang diklaim akan menjadi satu-satunya di Kalimantan.
“Ini sudah kami konsultasikan ke kementerian dan berproses. Kami diminta membuat naskah akademik. Insya Allah gelarnya nanti SPdD, Sarjana Pendidikan Seni Budaya Dayak, jika disetujui. Kami berharap Prodi ini mencetak guru muatan lokal untuk melestarikan bahasa dan budaya Dayak,” jelasnya.
UMSA juga sudah mendapatkan rekomendasi dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim dan Bupati Kotim untuk pendirian prodi seni budaya Dayak. Bahkan, menurut Ramadansyah, Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah akan membawa rekomendasi tersebut ke Kementerian.
Selain itu, Fakultas Agama Islam yang turut diusulkan diharapkan menjadi wadah bagi lulusan pondok pesantren dan guru agama untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2.
“Kami ingin nantinya teman-teman guru agama tidak perlu ke luar daerah untuk melanjutkan studi,” tambahnya.
Dengan pengusulan tersebut, UMSA optimistis dapat memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas di Kotim sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia di daerah tersebut. (DEWI PATMALASARI/Y)









