BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Bencana banjir yang melanda Kecamatan Mandau Talawang, Kapuas, terus meluas. Meskipun air berangsur surut di sebagian wilayah seperti Desa Tumbang Manyarung, banjir kini merembet ke desa lain, termasuk Desa Sei Pinang. Bencana yang dimulai sejak Rabu, 20 Agustus 2025 ini awalnya melanda Dusun Jakatan Masupa, dan kini telah merendam sedikitnya lima desa lain di sekitarnya.
Desa dan dusun yang terdampak parah meliputi Dusun Jakatan Masupa (termasuk Desa Tumbang Manyarung), Desa Karetau Manta'a, Desa Lawang Tamang, Desa Tumbang Bukoi, dan Desa Tumbang Tihis. Ketinggian air di permukiman warga bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 300 cm, menunjukkan tingkat keparahan yang berbeda di setiap lokasi.
Menurut Prakirawan BMKG Kalteng, Muhammad Ihsan Sidiq, curah hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas bagian hulu memang diprediksi dalam kondisi cukup tinggi saat terjadinya banjir. Namun, ada potensi peningkatan intensitas hujan sedang hingga lebat pada tanggal 24 Agustus di wilayah Gunung Mas, Kapuas bagian utara (wilayah bencana), Murung Raya, dan Barito Utara bagian utara.
"Diperkirakan curah hujan dasariannya dalam kondisi menengah, namun perlu diwaspadai untuk tanggal 24 terdapat peningkatan potensi hujan, intensitas sedang - lebat untuk wilayah gunung mas, kapuas bagian utara, murung raya dan barito utara bagian utara," ungkap Ihsan, Kamis, 21 Agustus 2025 kepada Borneonews.
Walaupun curah hujan tinggi menjadi pemicu utama, Direktur Walhi Kalteng, Bayu Herinata, mengungkapkan faktor yang lebih mendalam. Menurutnya, penyebab paling kuat dari banjir bandang ini adalah kondisi daya tampung dan daya dukung lingkungan DAS yang sudah sangat rendah akibat degradasi atau kerusakan.
Meski belum melakukan kajian secara spesifik di DAS Kapuas bagian hulu, pihaknya mengidentifikasi polanya sama yakni maraknya deforestasi hutan oleh korporasi dan perubahan tutupan lahan akibat pertambangan besar serta tambang emas telah membuat ekosistem sungai tidak berfungsi maksimal.
"Daya tampung hutan dan lahan yang seharusnya menyerap air hujan menjadi hilang, sehingga air langsung mengalir deras ke badan sungai," ucap Bayu, Kamis, 21 Agustus 2025 kepada Borneonews.
Hal inilah yang menyebabkan sungai tidak mampu menampung volume air dan meluap ke permukiman warga. Pola ini, menurut Bayu, sudah teridentifikasi sebagai penyebab berulang dari bencana banjir di wilayah tersebut. Kerusakan lingkungan yang masif membuat kawasan hulu tidak lagi mampu menjadi "penyangga" air, sehingga dampaknya dirasakan hingga ke desa-desa di hilir.
Dengan adanya potensi curah hujan yang akan meningkat dalam beberapa hari ke depan, Bayu memperingatkan bahwa desa-desa di bagian hilir DAS Kapuas juga berpotensi terdampak banjir. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah banjir di Kapuas bukan hanya bencana musiman, tetapi juga merupakan krisis ekologis yang mendesak untuk ditangani.
Situasi ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak, baik pemerintah, korporasi, maupun masyarakat, bahwa pembangunan harus sejalan dengan kelestarian lingkungan. Tanpa upaya serius untuk merehabilitasi DAS yang rusak dan menghentikan deforestasi, bencana hidrometeorologi seperti banjir akan terus menjadi ancaman serius bagi masyarakat di sepanjang DAS Kapuas. (SABRIANOOR/j)









