BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah panen ayam potong di Kalimantan Selatan (Kalsel) sangat melimpah bahkan terlampau over dari jumlah kebutuhan pasar. Lalu siapa yang kena imbasnya? Tak lain adalah provinsi tetangga yaitu Kalimantan Tengah (Kalteng) karena sudah menjadi kebiasaan ayam Kalsel dibawa ke Palangka Raya, Kalteng.

Pejabat Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kalteng, Faturahman mengatakan, kondisi ini berlangsung sejak tiga bulan  lalu. Cukup mudah untuk membedakan ayam potong limpahan Kalsel dengan dengan ayam hasil produksi Kalteng, yaitu bentuk tubuhnya yang besar-besar dan beratnya yang lebih dari 2 kg/potong ayam.

“Kalau melihat dari jumlah kebutuhan, produksi Kalteng sebenarnya sudah sangat cukup. Tetapi yang masuk ini karena terjadi limpahan produksi dari Kalsel, mereka over produksi. Lalu diarahkan kemana? Ya Kalteng ini yang jadi buangan dari produksi Kalsel, makanya harga jatuh dalam tiga bulan terakhir ini,” terangnya, Rabu (2/11/2016).

“Tidak sulit membedakannya, kalau ke pasar lihat ayam yang gemuk-gemuk atau sangat besar, ya itu dia yang dari Kalsel. Sebab umumnya tidak ada berat ayam yang sampai dua kilogram per ekor di sini. Itu karena di sana saking overnya tidak diambil pasar lalu dibawa ke sini. Ayam potong yang ideal itu adalah ketika beratnya 1,2 kg/ekor, itu  yang aman dikonsumsi,” ujarnya.

Kondisi ini tidak mengada, sebab secara statistik juga terpantau oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng. Dari data BPS, ayam potong menjadi sumber deflasi tertinggi atau penurunan harga tertinggi dibanding komoditas lainnya, dengan andil 0,09% di Kota Palangka Raya dan 0,30% untuk Kota Sampit. 

Menurut Fatur, tiga bulan menjadi komoditas andil deflasi secara terus menerus justru mengkhawatirkan..Pantauan di pasaran, harga ayam ras turun hingga berkisar harga Rp29 ribu-30 ribu/Kg sedangkan harga di Pasar Penyeimbang hanya berkisar Rp27 ribu/Kg.

“Padahal kisaran pemerintah itu, wajarnya harga Rp30.000-Rp35.000/kg. Kenapa menghawatirkan? Sebab nanti kalau harga rendah begini nanti begitu harga normal, terlihat melonjak tinggi jadinya, mengakibatkan inflasi terpotret cukup tinggi,” ujarnya.

“Kalteng sudah swasembada daging ayam tapi daging sapi belum. Tanpa didrop ayam dari Kalsel, itu sudah mencukupi. Kita juga berani nyatakan, stok Kalteng  cukup sampai Natal dan akhir tahun,” pungkasnya.

Sementara sebelumnya, Kepala BPS Kalteng Hanif Yahya dalam rilisnya, Kota Palangka Raya pada Oktober ini mengalami Deflasi 0,34%, sedangkan kta Sampit alami Deflasi 0,63%. Di Palangka Raya, turunnya harga daging ayam ras dan bawang merah menjadi pemicu tertinggi deflasi. Sedangkan di Sampit, dipicu harga daging ayam ras dan cabai rawit. (ROZIKIN/m)