PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah rimbunnya alam Kalimantan Tengah, sebuah perjalanan penting berlangsung awal Agustus lalu. Tim dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menyusuri jalanan menuju Desa Pangkut, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Bukan sekadar kunjungan biasa, tapi mereka datang membawa misi: menggali kekayaan bahasa dan sastra yang masih hidup di tengah masyarakat.

Selama lima hari, dari tanggal 4 hingga 8 Agustus 2025, tim peneliti melakukan pengambilan data langsung di lapangan. Kepala Balai Bahasa Kalteng, Sukardi Gau, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra.

“Kami ingin menangkap denyut kehidupan bahasa daerah yang masih digunakan dan diwariskan secara aktif,” kata Sukardi dalam rilisnya pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Hasilnya cukup menggugah. Bahasa Tomun, yang mungkin jarang terdengar di luar wilayah ini, ternyata masih menjadi bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari warga Pangkut.

Tak hanya itu, masyarakat juga masih memelihara sastra tradisional, cerita rakyat, pantun, dan ungkapan adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

“Di sini, sastra bukan sekadar warisan. Ia hidup, bernapas, dan menjadi bagian dari cara masyarakat memahami dunia,” kata Sukardi.

Ia menambahkan bahwa pelestarian bahasa dan sastra lokal seperti ini adalah fondasi penting dalam menjaga identitas budaya bangsa.

Data yang dikumpulkan dari Desa Pangkut akan menjadi bagian dari Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra, sebuah dokumen penting yang memetakan keragaman bahasa dan sastra di Indonesia.

Peta ini diharapkan menjadi rujukan bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga akademisi, dalam merancang kebijakan pelestarian budaya.

Dengan semangat yang sama, Balai Bahasa Kalteng terus bergerak dari desa ke desa, menyusuri jejak bahasa yang mungkin nyaris terlupakan. Di balik setiap kata dan cerita, tersimpan sejarah, nilai, dan harapan yang layak untuk terus dijaga.(TESTI PRISCILLA/R)