BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menyuguhkan pemandangan unik setiap musim kemarau. Saat sawah mengering, bukan petani yang sibuk, melainkan warga yang berjejer dengan jaring dan pancing. Mereka tak sedang menanam, melainkan "memanen" ikan betok, sejenis ikan rawa yang melimpah ruah.
Ikan betok atau papuyu, atau nama ilmiahnya Anabas testudineus, memang dikenal sebagai ikan petarung. Ia sanggup bertahan di perairan dangkal yang mulai surut, bahkan di lumpur. Kondisi inilah yang membuatnya menjadi target empuk.
Dengan alat sederhana seperti jaring atau pancing berumpan cacing, warga bisa membawa pulang tangkapan hingga belasan kilogram sehari.
"Saat musim kemarau, panen padi memang sulit, tapi panen betok justru melimpah," kata salah seorang warga, Rusmaini, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Bagi Rusmaini, berburu betok bukan sekadar mencari lauk. Tradisi ini sudah ia jalani sejak kecil, mengikuti jejak ayahnya. Kini, ia juga mengajak anak-anaknya.
"Ini sudah jadi kebiasaan sejak dulu," ucapnya.
Hasil tangkapan tidak hanya dinikmati sendiri. Rusmaini dan warga lainnya menjual surplus tangkapan mereka di pasar. Harganya bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram, tergantung ukuran ikan.
"Kalau hasilnya lumayan banyak, sisanya kami jual. Ini sangat membantu pemasukan keluarga," tambahnya.
Tak heran jika ikan betok sangat populer di kalangan masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dagingnya yang gurih dan padat sering diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari ikan bakar yang sederhana hingga wadi, hidangan fermentasi khas yang digemari banyak orang. Kelezatan dan nilai ekonomis inilah yang menjadikan ikan betok sebagai primadona di musim kemarau.
Tradisi ini adalah bukti nyata bagaimana masyarakat Kapuas Timur mampu beradaptasi dengan kondisi alam dan memanfaatkannya secara berkelanjutan. Sawah rawa yang tadinya hanya dilihat sebagai lahan pertanian kini memiliki fungsi ganda sebagai lumbung ikan. (SABRIANOOR/Y)









