BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas di sekitar Kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, kini memprihatinkan. Para pemancing yang biasa beraktivitas di sana mengeluhkan kelangkaan ikan.
Fenomena ini membuat sebagian besar dari mereka terpaksa beralih target, dari ikan ke udang. Kondisi ini mencerminkan adanya perubahan ekosistem di salah satu sungai terpanjang di Kalimantan ini.
Seorang warga yang juga pemancing, menyampaikan kekecewaannya. Ia mengatakan bahwa saat ini ikan sudah sangat sulit didapat.
"Ikannya tidak terlalu banyak yang mematuk pancing, banyak dari kami beralih mancing udang," ucapnya, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Aktivitas memancing di DAS Kapuas umumnya dilakukan dengan menggunakan jukung, perahu tradisional khas Kalimantan. Dengan jukung ini, para pemancing menyusuri sungai, mencari lokasi strategis untuk menjatuhkan kail.
Peralatan pancing sederhana yang mereka gunakan menjadi saksi bisu atas berkurangnya tangkapan ikan dari hari ke hari, memaksa mereka untuk beradaptasi dengan mencari sumber daya lain.
Menurut para pemancing, ada perbedaan kondisi antara dua cabang utama Sungai Kapuas. Cabang pertama adalah Sungai Kapuas Murung, yang melintasi Jembatan Pulau Petak. Aliran sungai ini cenderung lebih jernih dan terhubung hingga ke Sungai Barito. Kondisi air yang lebih jernih ini masih mendukung populasi ikan yang lebih sehat.
Sementara itu, cabang utama Sungai Kapuas yang melintasi Jembatan Pulau Telo, terhubung dengan bagian hulu DAS Kapuas, memiliki kondisi air yang keruh. Menurut pengakuan para pemancing, di cabang sungai inilah populasi ikan jauh lebih sedikit.
Kondisi air yang keruh sering kali menjadi indikasi adanya sedimentasi atau pencemaran, yang bisa mengganggu habitat dan siklus hidup ikan.
Fenomena kelangkaan ikan ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Kelestarian DAS Kapuas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. (SABRIANOOR/H)









