KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Situasi banjir bandang di sejumlah desa di Kecamatan Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas, kini mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Debit air yang sebelumnya melanda kawasan tersebut sejak Rabu kemarin, kini (Sabtu, 23 Agustus 2025) telah berangsur surut, membawa angin segar bagi warga yang terdampak.

Meski demikian, tim gabungan tetap bersiaga dan melanjutkan operasi dengan status pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Tim Rescue dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya menjadi salah satu pihak yang sigap merespons bencana ini. Mereka diterjunkan ke lokasi sejak Kamis, 21 Agustus 2025, sesaat setelah menerima laporan dari BPBD Kabupaten Kapuas. Dengan sigap, tim ini dilengkapi dengan peralatan penting seperti satu unit rubber boat dan satu unit rescue car untuk mendukung proses evakuasi dan pendistribusian bantuan.

Selama tiga hari masa tanggap darurat, tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Kantor SAR Palangka Raya, TNI, Polri, dan BPBD bekerja tanpa lelah. Mereka fokus pada dua hal utama yaitu mengevakuasi warga dari lokasi-lokasi yang paling parah terdampak banjir dan membantu mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat. Aksi cepat ini sangat krusial dalam memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar para korban terpenuhi.

Menurut Kepala Kantor SAR Palangka Raya, AA. Ketut Alit Supartana, hasil pemantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Debit air yang terus menurun menjadi dasar keputusan untuk mengakhiri operasi SAR tanggap darurat.

"Operasi SAR Tanggap Darurat Banjir di Kecamatan Mandau Talawang dinyatakan selesai dan ditutup," ungkap Alit yang juga menegaskan bahwa fase evakuasi dan penanganan darurat kini beralih menjadi fase pemantauan.

Meskipun operasi tanggap darurat telah dihentikan, kewaspadaan tetap tinggi. Alit menambahkan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan intensif di area yang terdampak. Tim gabungan akan segera kembali melanjutkan operasi SAR jika terjadi peningkatan debit air secara mendadak atau jika warga kembali membutuhkan evakuasi. Hal ini menunjukkan kesiapan penuh pihak berwenang dalam menghadapi potensi gelombang kedua bencana.

Keputusan ini diambil sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan sumber daya dan tenaga, sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa mereka tidak ditinggalkan. Dengan situasi yang berangsur normal, fokus kini bisa beralih ke tahap pemulihan pasca-banjir. (SABRIANOOR/H)