BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Rumah Betang Manggatang Utus, atau yang lebih dikenal dengan nama Huma Betang Sei Pasah, kini menjadi destinasi wisata favorit bagi para pelancong yang ingin menyelami kekayaan budaya Dayak Ngaju.
Berlokasi di Desa Sei Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, rumah adat yang berdiri megah ini menawarkan pengalaman unik dan mendalam tentang kearifan lokal suku Dayak. Arsitekturnya yang khas, sejarah panjangnya, dan lokasinya yang strategis membuat tempat ini terus menarik minat wisatawan dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, wisatawan lokal, hingga turis mancanegara.
Terletak di seberang Sungai Kapuas Murung, hanya sekitar 200 meter dari tepian sungai, Rumah Betang ini mudah dijangkau dari pusat Kota Kuala Kapuas. Pemandangan alam yang asri di sekitarnya menambah daya tarik tersendiri, menciptakan suasana yang tenang dan damai.
Meskipun bangunan aslinya yang didirikan pada tahun 1806 telah mengalami pemugaran karena lapuk dimakan usia, arsitektur dan esensi budaya aslinya tetap dipertahankan. Revitalisasi ini memastikan bahwa warisan budaya Dayak dapat terus dilestarikan dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Sejak diresmikan sebagai objek wisata pada 19 Januari 2019, Rumah Betang Sei Pasah telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam hal kunjungan wisatawan. Hal ini tak lepas dari peran pemerintah daerah yang terus berupaya meningkatkan fasilitas di sekitarnya.
"Kawasan ini telah memulai program rehabilitasi sejak tahun 2023, dengan pengerjaan lanjutan di tahun 2024," ucap Erliansyah dari Dinas Pariwisata Kapuas, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Dilanjutkannya, proyek ini bertujuan untuk melengkapi sarana dan prasarana penunjang melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kapuas, demi kenyamanan pengunjung.
Kunjungan ke Rumah Betang Sei Pasah menawarkan lebih dari sekadar melihat-lihat. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan penjaga rumah, mendengarkan cerita-cerita sejarah, dan belajar tentang tradisi serta nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Ngaju.
Pengalaman ini memberikan wawasan yang berharga dan meninggalkan kesan mendalam tentang betapa kayanya budaya Indonesia. Semua ini dapat dinikmati dengan biaya yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 untuk tiket masuk, menjadikannya pilihan ideal untuk wisata edukatif yang ramah di kantong.
Melalui upaya rehabilitasi dan promosi yang gencar, Rumah Betang Sei Pasah bukan hanya menjadi sebuah bangunan bersejarah, melainkan sebuah pusat kehidupan budaya yang dinamis. Tempat ini menjadi jembatan bagi generasi muda dan wisatawan untuk mengenal dan menghargai warisan leluhur, serta menjadi pengingat pentingnya menjaga dan melestarikan kekayaan budaya bangsa. Dengan demikian, Rumah Betang Manggatang Utus terus berdiri tegak, menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan penjaga kearifan lokal Dayak Ngaju. (SABRIANOOR/H)









