BORNEONEWS, Palangka Raya - Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama atau Lesbumi NU Provinsi Kalimantan Tengah ambil bagian dalam kegiatan diskusi dan bedah buku bertajuk Pengetahuan Dasar dan Desain Ornamen Dayak Ngaju karya seniman lokal Barons Anthonius Baboe.
Acara yang berlangsung di Nanika Coffee, Jalan G. Obos Palangka Raya ini menghadirkan berbagai tokoh seni dan budaya, termasuk mahasiswa dan penggiat komunitas kreatif.
Dalam pemaparannya, Barons menjelaskan bahwa kekayaan seni rupa dan seni patung suku Dayak di Kalimantan Tengah lahir dari cara pandang mereka terhadap alam semesta, kepercayaan kepada Tuhan dan leluhur, serta adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. Hal ini menjadikan setiap karya seni Dayak memiliki ciri khas yang unik dan sarat makna filosofis.
Mengutip jurnal ilmiah Prof. Kumpiady Widen, Barons menyebutkan bahwa suku Dayak di Kalimantan terdiri dari sedikitnya 405 sub kelompok etnik. Di Kalimantan Tengah sendiri, terdapat setidaknya 10 sub kelompok etnik Dayak, seperti Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Lawangan, Bentian, Bawo, Punan, Siang, Tamuan, dan Klemantan.
Keberagaman ini turut memengaruhi bentuk seni rupa seperti Batang Garing, seni patung Sapundu, serta bahasa dan simbol yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ornamen Dayak yang sering terlihat pada rumah adat, kantor pemerintahan, hingga kain batik daerah, menurut Barons, memiliki identitas dan makna tersendiri. Motif-motif yang digunakan mencerminkan unsur manusia, hewan seperti cicak, ulat bulu, burung Tingang, tanduk rusa, serta tumbuhan. Seiring perkembangan zaman, ragam ornamen semakin kaya berkat kreativitas para seniman lokal yang terus berinovasi untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Ketua Lesbumi NU Kalteng, H. Muhamad Asran Dirun, menegaskan pentingnya generasi muda mengenal dan melestarikan warisan budaya Dayak.
“Adat istiadat dan hasil karya seni orang Dayak harus kita lestarikan dan publikasikan ke masyarakat, agar tidak tergerus oleh budaya luar,” kata Asran kepada Borneonews pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas seniman, tetapi tanggung jawab bersama.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Lesbumi Kota Palangka Raya Cahyo W Darmawan, serta sejumlah penggiat seni dan budaya. Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat, memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kekayaan budaya Dayak sebagai identitas lokal yang membanggakan. (TESTI PRISCILLA/H)









