KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Laporan dari BPBD Kapuas mencatat setidaknya 55 unit rumah di Mandau Telawang mengalami kerusakan bervariasi. Ratusan jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga membawa trauma dan ketidakpastian bagi penduduk setempat. 

Banjir yang melanda Kecamatan Mandau Telawang, Kabupaten Kapuas, pada 20 Agustus 2025, bukan sekadar bencana musiman akibat curah hujan tinggi. Lebih dari itu, kejadian ini adalah manifestasi dari krisis ekologis yang mengancam keberlanjutan wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis Direktur Wahana Lingkungan Hidup  Indonesia (WALHI) Kalimantan Tengah, Bayu Herinata, bencana ini akan terus berulang dan bahkan semakin memburuk jika tidak ada tindakan serius untuk mengatasi akar permasalahannya.

Kerusakan lingkungan pemicu utama

Penyebab utama banjir bukanlah semata-mata curah hujan, melainkan kondisi lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas yang sudah mengalami degradasi parah. 

"Daya dukung dan daya tampung lingkungan, yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap air, kini telah sangat rendah. Hal ini diperparah oleh deforestasi masif akibat aktivitas korporasi dan pertambangan, baik tambang besar maupun tambang emas ilegal," papar Bayu kepada Borneonews, Minggu, 24 Agustus 2025.

Dijelaskannya  bahwa hutan yang seharusnya menjadi "penyangga" air telah lenyap, membuat air hujan langsung mengalir deras ke sungai.

Hilangnya fungsi ekosistem sungai

Saat hutan di kawasan hulu rusak, ekosistem sungai kehilangan kemampuannya untuk berfungsi secara maksimal. Alih-alih menyerap air, lahan yang gundul membuat aliran permukaan (runoff) meningkat drastis. Akibatnya, sungai tidak lagi mampu menampung volume air yang melimpah saat hujan turun, menyebabkan air meluap hingga ke permukiman warga. 

"Pola bencana ini sudah teridentifikasi sebagai siklus berulang di DAS Kapuas," ucap Bayu.

Dampak meluas hingga ke hilir

Efek dari kerusakan di hulu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di lokasi banjir langsung, tetapi juga berpotensi meluas hingga ke desa-desa di bagian hilir DAS Kapuas. Bayu Herinata memperingatkan bahwa dengan potensi curah hujan yang akan meningkat dalam beberapa hari ke depan, daerah hilir juga berisiko tinggi terdampak. Ini menunjukkan bahwa banjir di Kapuas adalah masalah sistemik yang dampaknya menyebar di sepanjang DAS.

Kurva bencana yang terus meningkat

Menurut Bayu, jika tidak ada upaya nyata untuk membatasi dan mengurangi faktor penyebab krisis lingkungan, bencana ekologis seperti banjir akan semakin besar dan sering terjadi di masa depan.

"Solusi yang paling mendesak adalah melakukan aksi pencegahan melalui pemulihan lingkungan, terutama di kawasan DAS yang kritis. Upaya ini harus berbasis masyarakat dan wilayah, melibatkan partisipasi aktif dari penduduk lokal," terangnya.

Menurutnya, hal ini mencakup tidak hanya penanganan pascabencana, tetapi juga rehabilitasi DAS secara besar-besaran, serta penegakan hukum yang tegas terhadap aktivitas ilegal yang merusak lingkungan. Sinergi antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat menjadi kunci.

Pembangunan berkelanjutan sebagai kunci

Situasi ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa pembangunan ekonomi harus sejalan dengan kelestarian lingkungan. Tanpa komitmen serius untuk merehabilitasi DAS yang rusak dan menghentikan deforestasi, bencan hidrometeorologi seperti banjir akan terus menjadi ancaman serius bagi masyarakat di sepanjang DAS Kapuas.

Keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan perlindungan alam adalah satu-satunya jalan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.

Pertanyaan kritis untuk masa depan

Banjir di Kapuas adalah cerminan dari kegagalan dalam menjaga keseimbangan alam. 

Pertanyaannya sekarang, apakah kita akan terus-menerus terjebak dalam siklus bencana ini, ataukah kita akan mengambil langkah berani untuk memulihkan lingkungan dan membangun masa depan yang lebih aman bagi generasi mendatang? Jawabannya terletak pada keseriusan semua pihak dalam bertindak. (SABRIANOOR/j)