BORNEONEWS, Palangka Raya - Bank Indonesia (BI) terus gencar memperkenalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai sistem pembayaran digital yang berlaku secara nasional. Pengenalan QRIS tidak hanya sekadar mendorong kemudahan transaksi, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat posisi rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Kepala BI Perwakilan Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, menyampaikan bahwa penggunaan QRIS justru memperkuat eksistensi rupiah karena setiap transaksi tetap dilakukan dalam mata uang nasional. Dengan begitu, digitalisasi pembayaran tidak mengurangi peran rupiah, melainkan menjadikannya lebih relevan dan efisien di era modern.
“QRIS bukan menggantikan rupiah, tetapi memudahkan masyarakat dalam bertransaksi menggunakan rupiah. Jadi, ke depan rupiah akan semakin kuat karena dipakai secara luas, termasuk melalui kanal digital,” ujarnya, Minggu, 24 Agustus 2025.
Yuliansah menambahkan, keberadaan QRIS juga menjadi benteng dalam menghadapi derasnya arus digitalisasi global. Di tengah gempuran mata uang digital asing dan sistem pembayaran internasional, Indonesia membutuhkan standar nasional agar transaksi tetap berbasis rupiah.
Ia menekankan bahwa semakin banyak masyarakat yang menggunakan QRIS, maka semakin besar pula daya tahan rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga kedaulatan moneter Indonesia.
Selain memperkuat rupiah, penerapan QRIS juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan pelaku usaha. Transaksi menjadi lebih cepat, aman, dan efisien, serta memperluas akses layanan keuangan bagi kelompok UMKM maupun masyarakat di wilayah pelosok.
Bank Indonesia memastikan, literasi digital dan edukasi masyarakat akan terus dilakukan agar tidak ada keraguan terhadap nasib rupiah di era digital. Rupiah akan tetap menjadi satu-satunya alat pembayaran yang sah, baik secara tunai maupun nontunai.
"Dengan digitalisasi pembayaran melalui QRIS, diharapkan ke depan masyarakat semakin yakin bahwa rupiah tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin kuat sebagai simbol kedaulatan dan stabilitas ekonomi Indonesia," pungkasnya. (MARINI/j)









