BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Tradisi Potong Pantan, sebuah ritual kehormatan khas Suku Dayak Ngaju, kini semakin dilestarikan sebagai bagian penting dari setiap prosesi kepemerintahan di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Ritual ini bukan sekadar sambutan, melainkan simbolik penghormatan yang mendalam, diterapkan pada berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, pergantian jabatan, dan memulai tugas baru.
Makna dari Potong Pantan sendiri sangatlah mendalam. Kata "pantan" berarti halangan atau rintangan. Dengan memotong sebatang bambu yang melintang di pintu masuk, tradisi ini melambangkan upaya untuk menyingkirkan segala halangan dan firasat buruk, sekaligus sebagai ungkapan rasa bangga dan sukacita. Tujuannya adalah membuka jalan bagi kelancaran dan kesuksesan sebuah kegiatan.
Ketua Harian Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah, Prof. Andre Elia Embang, menjelaskan bahwa tradisi ini kaya akan makna filosofis.
"Di antaranya adalah simbol penghormatan hangat terhadap tamu, menunjukkan nilai-nilai keramahan dan kesopanan yang dijunjung tinggi oleh budaya Dayak. Ritual ini juga memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan antara tuan rumah dan tamu," paparnya kepada Borneonews, Senin, 25 Agustus 2025.
Lebih dari itu, dijelaskannya bahwa upacara ini juga memiliki nilai-nilai spiritual yang kuat. Dengan memotong pantan, para tamu diharapkan akan selalu mendapatkan perlindungan dari Sang Pencipta. Ada harapan dan doa di dalamnya, agar para tamu dianugerahi kesehatan, umur panjang, rezeki yang berlimpah, serta kesuksesan dalam melaksanakan tugas-tugas mereka.
"Pelaksanaan upacara Potong Pantan dipimpin oleh seorang Mantir/Damang atau tokoh adat. Mereka menyiapkan alat-alat yang telah ditentukan, seperti mandau, dan dibantu oleh dua orang pendamping. Para tamu undangan dipersilakan menempati tempat yang disediakan sebelum Mantir memulai upacara," terangnya.
Prosesinya sangat sakral. Setelah pantan berhasil dipotong menggunakan mandau, sebuah senjata tradisional Dayak, barulah para tamu dipersilakan untuk memasuki area acara. Momen ini menandai dibukanya "jalan" yang bersih dari rintangan, melambangkan harapan akan kelancaran dan kesuksesan di masa mendatang.
Dengan terus dilestarikannya tradisi ini, Kalimantan Tengah khususnya Kabupaten Kapuas menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Suku Dayak. Potong Pantan tidak hanya menjadi bagian dari upacara, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai luhur dan filosofis yang menjadi identitas bangsa. Hal ini juga menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan keunikan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan Indonesia. (SABRIANOOR/J)









