Oleh: Dr Moh Ali Fadhillah
BANGUNAN utama keraton yang posisinya berada di belakang pendapa, adalah gadong kuning. Bangunan ini mempunyai atap pelana dengan bubungan tinggi seperti halnya rumah-rumah tradisional di Banjarmasin.
Agaknya ia menunjukkan sebuah harmoni antara atap tinggi dan bagian dasar bangunan dari konstruksi tiang pendek. Keseluruhan itu memberi watak monumental yang berkaitan langsung dengan fungsinya sebagai bangunan utama keraton.
Sedangkan bangunan lain hanya berupa struktur panggung segi empat panjang dengan atap pelana, yaitu tipe atap karakteristik rumah tradisional di semenanjung Melayu yang bentuknya menyerupai huruf V terbalik dengan dua penutup disebut tebar layar (Nasir, 1985: 3).
Pada struktur itu tampak bahwa atap menjadi parameter dari status setiap bangunan dalam kompleks keraton. Atap gadong kuning misalnya, secara simbolik bisa dilihat sebagai puncak dari sebuah gunung.
Simbolisasi perbedaan status tampak juga pada pembagian ruang. Dalam prakteknya, balai rumbang sebagai unsur penghubung, tetapi secara simbolik harus dipandang sebagai pemisah antara pendapa (bangunan profan) dengan gadong kuning (bangunan sakral).
Eksistensi balai rumbang cukup penting menurut tradisi kerajaan. Ia akan menjadi bangunan terakhir bagi panakawan untuk mengawal raja memasuki gadong kuning. Memang ada pintu di balai rumbang, tetapi dikhususkan untuk raja, sedangkan pintu umum terdapat di depan pendapa.
Dengan begitu, untuk mencapai gadong kuning sama sulitnya dengan memasuki dalem pada kompleks keraton Jawa, dan gadong kuning sepertinya dipresentasikan sebagai dalem, bangunan paling sakral di keraton Kotawaringin.
Itu sebabnya ia disebut dalem kuning. Berhubungan dengan fungsi simboliknya, keraton terletak di sebuah bukit disebut Indra Kencana, mengingatkan kita pada mitologi India di mana gunung Mahameru dipandang sebagai tempat bersemayam Dewa Indra yang istananya terletak di puncak gunung tersebut (Heine-Geldern, 1956; Behrend, 1989: 173-185). (yoh/*)








