PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS terus memperkuat komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Perusahaan menyadari bahwa penerapan ESG bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tuntutan global yang semakin tegas, terutama dari pasar Eropa dan Amerika.

Produk sawit yang masuk ke pasar internasional kini harus berasal dari rantai pasok yang transparan, berkelanjutan, dan bebas dari isu lingkungan maupun sosial.

Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, SSMS menjalankan proyek konservasi Pulau Salat yang telah dilaporkan secara rutin selama 25 tahun sesuai dengan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Proyek ini tidak hanya menjadi simbol akuntabilitas perusahaan, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan dari investor, mitra bisnis, dan konsumen global.

Transparansi dalam pelaporan dan konsistensi dalam pelaksanaan konservasi menjadi nilai tambah yang memperkuat posisi SSMS di pasar internasional.

Chief Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio Wibowo, menegaskan bahwa kunjungan Komite Audit ke Pulau Salat menjadi momentum penting untuk menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam strategi bisnis. Menurutnya, keberlanjutan bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian inti dari arah dan keputusan korporasi.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah bisnis kami mencerminkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat,” kata Henky dalam rilisnya pada Senin, 25 Agustus 2025.

Tak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, SSMS juga menunjukkan kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat lokal.

Dalam kunjungan tersebut, perusahaan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Pilang dengan membeli hasil pertanian warga, seperti sayur dan buah-buahan. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan mencakup aspek ekonomi, sosial, dan ekologi secara holistik.

“Model kemitraan antara SSMS dan BUMDes Desa Pilang memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan,“ tuturnya.

Dengan memberdayakan masyarakat melalui pembelian hasil pertanian lokal, SSMS tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Sinergi ini menjadi contoh konkret bagaimana industri sawit dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Dengan mengintegrasikan konservasi dan pemberdayaan masyarakat, SSMS menunjukkan bahwa industri sawit dapat menjadi kekuatan positif bagi lingkungan dan sosial.

“Langkah-langkah yang diambil perusahaan menjadi inspirasi bagi pelaku industri lainnya untuk mengadopsi praktik ESG secara menyeluruh dan konsisten. SSMS membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih adil dan lestari,“ katanya.(TESTI PRISCILLA/R)