BORNEONEWS, Palangka Raya - Kunjungan Komite Audit PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS ke Pulau Salat, Kalimantan Tengah, menjadi simbol kuat bagaimana perusahaan menempatkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis.
Dalam perspektif lingkungan (Environmental), SSMS menunjukkan komitmen nyata melalui konservasi orangutan yang telah menjadi bagian integral dari operasional perusahaan.
Dari sisi sosial (Social), SSMS membangun hubungan saling menguntungkan dengan masyarakat lokal, termasuk melalui kemitraan ekonomi dan pemberdayaan komunitas sekitar.
Perusahaan tidak hanya berfokus pada pelestarian alam, tetapi juga pada penciptaan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.
Sementara itu, aspek tata kelola (Governance) diperkuat dengan kehadiran langsung Komite Audit yang memastikan seluruh program konservasi dijalankan sesuai standar internasional dan prinsip transparansi.
Chief Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio Wibowo, menyampaikan bahwa kunjungan ini menegaskan integrasi ESG ke dalam strategi bisnis perusahaan. Menurutnya, keberlanjutan bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari sistem kerja yang diterapkan secara konsisten.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah bisnis kami mencerminkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat,” kata Henky dalam rilisnya pada Senin, 25 Agustus 2025.
Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan, inisiatif seperti konservasi Pulau Salat memberi nilai tambah yang signifikan.
“Program ini tidak hanya berdampak pada pelestarian ekosistem lokal, tetapi juga memperkuat posisi SSMS di mata pasar internasional yang semakin selektif terhadap produk berbasis sawit.
Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam membangun kepercayaan global,“ terangnya.
Pulau Salat kini menjadi bukti bahwa sektor swasta, khususnya industri kelapa sawit, dapat memainkan peran penting dalam menjaga lingkungan sekaligus memenuhi ekspektasi pasar global.
SSMS menunjukkan bahwa konservasi dan bisnis bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling mendukung dalam kerangka keberlanjutan yang terukur dan berdampak luas.
“Dengan menjadikan ESG sebagai pilar utama, SSMS tidak hanya memperkuat reputasi perusahaan, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi industri sawit yang lebih bertanggung jawab,“ katanya lagi.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain untuk mengadopsi pendekatan serupa, demi masa depan yang lebih hijau dan adil bagi semua pihak.(TESTI PRISCILLA/R)









