BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui pemaparan edukatif yang disampaikan langsung oleh Asisten Direktur Senior, Andrianto Suhada. Dalam kegiatan lanjutan dari BNN Fun Run V2 2025, OJK menyampaikan materi penting mengenai pengelolaan keuangan yang bijak sebagai langkah antisipatif terhadap maraknya kejahatan digital.
Andrianto menjelaskan bahwa masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai modus kejahatan siber seperti social engineering, sniffing, card tapping, phishing, dan skimming.
“Kejahatan ini menyasar kelemahan pengguna dalam memahami sistem keuangan digital, sehingga edukasi menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan finansial masyarakat di era teknologi,“ kata Andrianto dalam rilisnya pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Ia juga menyoroti rendahnya literasi keuangan di kalangan generasi muda yang membuat mereka rentan terhadap jebakan investasi ilegal. Fenomena gaya hidup YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear of Missing Out), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) menjadi faktor pendorong anak muda mengambil keputusan keuangan yang impulsif tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.
YOLO mendorong gaya hidup yang berorientasi pada kesenangan sesaat, sementara FOMO membuat individu merasa harus mengikuti tren agar tidak tertinggal. FOPO, di sisi lain, menciptakan tekanan sosial yang membuat seseorang cenderung mengambil keputusan berdasarkan opini orang lain. Ketiga pola ini menjadi tantangan tersendiri dalam membangun budaya keuangan yang sehat di kalangan muda.
“Untuk itu, OJK mengimbau masyarakat agar selalu mengingat prinsip 2L dalam setiap keputusan finansial: legal dan logis,“ tuturnya.
Masyarakat diminta untuk selalu memeriksa legalitas perusahaan yang menawarkan investasi atau pinjaman, serta menilai apakah keuntungan atau bunga yang dijanjikan masuk akal dan sesuai dengan logika bisnis yang sehat.
“Melalui kegiatan ini, OJK berharap dapat memperkuat pemahaman masyarakat terhadap risiko keuangan digital dan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak. Edukasi yang berkelanjutan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat Kalimantan Tengah yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tangguh secara finansial dan cerdas menghadapi tantangan ekonomi modern,“ tuturnya lagi. (TESTI PRISCILLA/j)









