PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Palangka Raya terus menunjukkan peran strategisnya dalam mencetak tenaga pendidik yang profesional, kompeten, dan adaptif terhadap dinamika dunia pendidikan.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, PBSI menempatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan peningkatan mutu pendidikan sebagai fokus utama. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menjalin kemitraan dengan Kecamatan Kahayan Tengah, khususnya SD di Gugus 4 KKG Hapakat.

"Kemitraan ini bertujuan memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik pendidikan di lapangan. Melalui kolaborasi ini, PBSI berupaya mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan dasar, dengan mengintegrasikan aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat," kata Koordinator Prodi PBSI, Alifiah Nurachmana kepada Borneonews pada Selasa, 26 Agustus 2025.

Sasaran utama dari program ini adalah guru dan siswa kelas awal di SD Negeri Bahu Palawa 1, SD Negeri Pamarunan 1, SD Negeri Balukon 1, dan SD Negeri Bukit Bamba 1.

Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran fundamental memiliki peran penting dalam membentuk keterampilan berkomunikasi, berpikir kritis, dan membangun literasi sejak dini.

"Namun, tantangan dalam pengajarannya masih cukup besar, seperti terbatasnya metode pembelajaran yang variatif, minimnya media inovatif, serta kebutuhan peningkatan kompetensi guru dalam menyusun materi berbasis kurikulum merdeka. PBSI hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui pendekatan berbasis kebutuhan lokal," terang Alifiah.

Salah satu fokus utama kemitraan adalah penguatan kemampuan membaca permulaan bagi siswa kelas I hingga III. Keterampilan ini menjadi fondasi penting dalam proses belajar di semua mata pelajaran. Oleh karena itu, penguasaan membaca permulaan harus ditanamkan secara sistematis dan menyenangkan, sesuai dengan tahap perkembangan anak. PBSI memandang hal ini sebagai prioritas dalam mendukung keberhasilan pendidikan dasar.

Di lapangan, masih ditemukan berbagai kendala seperti rendahnya minat baca siswa, kesulitan guru dalam menerapkan metode yang tepat, serta kurangnya media pembelajaran yang mendukung.

"PBSI merespons tantangan tersebut dengan merancang program strategis, seperti pelatihan guru kelas awal, pengembangan media ajar berbasis literasi, pendampingan kelas membaca, dan pelibatan mahasiswa dalam praktik pembelajaran langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan meningkatkan kemampuan membaca siswa secara signifikan," tuturnya.

Kemitraan antara PBSI dan Gugus 4 KKG Hapakat menjadi contoh nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada masyarakat. Dengan semangat kolaboratif, PBSI UPR tidak hanya memperkuat eksistensinya sebagai institusi akademik, tetapi juga berkontribusi aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan berdaya saing di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)