BORNEONEWS, Palangka Raya– Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam waktu dekat akan melakukan investigasi ke hutan di wilayah Sungai Mangkutub, Kabupaten Kapuas, yang  diduga berlangsung aktivitas pembalakan liar. 

Pada akhir 2015, Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), mengevakuasi puluhan orangutan dari habitatnya di hutan gambut Sungai Mangkutub. Tindakan itu diambil akibat maraknya aktivitas pembalakan hutan yang diduga ilegal. 

Berdasarkan pengamatan Konservasi Mawas, pada musim kemarau di sana ribuan pohon ditebang. Baru pada musim hujan saat air pasang, ribuan kubik kayu itu kemudian dibawa ke pembeli di luar Kalimantan Tengah. 

Direktur Jendral Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani nengatakan, atas kasus ini akan melakukan pengecekan. Jika didapati aktivitas illegal logging, dia berjanji akan melakukan tindakan tegas.

“Nanti akan kita cek. Tapi satu hal, kita akan ambil tindakan tegas untuk ini,” kata dia dihubungi dari Palangka Raya, Kamis (3/10/2016). 

Terpisah, Menajer Program Mawas Borneo Orangutan Survival Jhanson Regalino mengatakan, kondisi di lapangan saat ini sangat mendesak. “Kalau tidak diambil tindakan segera akan berpengaruh signifikan terhadap jumlah populasi orangutan serta hutannya,” papar dia. 

Jhanson menjelaskan, jika dalam satu bulan saja sekitar dua ribu kayu log diambil dari hutan, berarti ada dua ribu pohon yang ditebang. Menurutnya, ini akan mengganggu habitat hewan dan keseimbangan ekosistem. 

Jhonson memperkirakan angka pembalakan liar lebih besar dari contoh yang diberikannya. Sebab, pantauan pihaknya, di sepanjang Sungai Mangkutub terdapat 60 lebih tempat penggergajian kayu yang statusnya aktif. 

Sementara Koordinator Komunikasi dan Edukasi BOS Nyaru Menteng, Monterado Fridman Agung mengatakan, di wilayah hutan Sungai Mabgkutub, terdapat stasiun penelitian orangutan. Sementara populasinya berdasarkan data tahun 2012, terdapat sekitar 3.000. 

Dia khawatir angkanya kini sudah sangat menurun dratis. Hal itu akibat makin sedikitnya hutan yang berdampak pada tingginya konflik. (RONI SAHALA/m)