BORNEONEWS, Palangka Raya - Kuliah umum bertema “Membumikan Interdisiplinerisme dalam Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya” yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Palangka Raya, menjadi ruang refleksi penting bagi akademisi dan mahasiswa dalam memahami peran strategis bahasa dan sastra di era digital.
Dibuka oleh Dekan FKIP UPR, Dr Rinto Alexandro, dan dimoderatori oleh Prof Petrus Poerwadi, kuliah umum menghadirkan Prof Djoko Saryono sebagai narasumber utama. Melalui platform Zoom, Prof Djoko menyoroti pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam merespons kompleksitas kebahasaan dan kesastraan yang semakin dinamis.
Koordinator Prodi PBSI, Alifiah Nurachmana, menyampaikan bahwa kuliah umum ini bertujuan memperkuat keterkaitan antara pembelajaran kampus dan kebutuhan dunia kerja.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa bahasa dan sastra bukan hanya objek kajian, tetapi juga alat transformasi sosial,” ujarnya kepada Borneonews pada Rabu, 27 Agustus 2025.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi diskusi, di mana lima pertanyaan dari dosen dan mahasiswa dijawab secara mendalam oleh narasumber. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan interdisipliner telah menjadi kebutuhan mendesak dalam pengembangan ilmu bahasa dan sastra.
Kegiatan ini juga sejalan dengan visi Kampus Berdampak yang diusung FKIP UPR, yakni menyelenggarakan kegiatan akademik yang relevan, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Mahasiswa didorong untuk menghasilkan karya inovatif yang mampu menjawab tantangan zaman.
"Sebagai tindak lanjut, dokumentasi kuliah umum akan dijadikan bahan kajian dalam perkuliahan reguler," katanya.
PBSI FKIP UPR berencana menjadikan kuliah umum sebagai agenda rutin untuk memperkuat jejaring akademik dan memperluas wawasan mahasiswa secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/y)









