BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) V Kalimantan Tengah (Kalteng) mengoperasionalkan outlet rumah pangan. Dari 14 kabupaten/kota di Bumi Tambun Bungai ini, tidak semua daerah ada outlet yang menjajakan kebutuhan pokok. Saat ini, dari target 150 unit se-Kalteng, terealisasi 101 unit. Yang ditawarkan, bahan kebutuhan pokok dengan nilai yang standarnya adalah di bawah pasaran.
"Langkah ini diambil dalam rangka membantu menekan harga sehingga kalaupun Kalteng terjadi inflasi, tidak akan terlalu tinggi. Dengan mendirikan outlet rumah pangan ini kita berharap membantu mengerem lonjakan harga di pasaran umum. Ada 101 unit yang tersebar di Kalteng dari target 150 unit,” kata Kepala Bulog Kalteng, Sopran Kennedi kepada Borneonews, Kamis. (4/11/2016).
Sementara pihak Bulog membuat program outlet pangan, Pemprov Kalteng masih terus menghidupkan Pasar Penyeimbang sebagai andalan. Salah satu pejabat dinas pertanian dan peternakan (Distanak) Kalteng, Faturahman mengatakan, Pasar Penyeimbang sangat mengontrol harga dan menekan supaya pedagang tidak seenaknya menaruh harga.
“Itu sangat besar efek psikologisnya terhadap harga di pasar, karena pedagang pun sebenarnya mereka spekulan. Jadi sisi positifnya pasar penyeimbang ini adalah mereka sekarang tidak lagi berani naikkan harga tinggi karena ada harga pembanding,” tuturnya.
“Jadi jelas sangat mempengaruhi ekspektasi pasar akibat tidak lagi spekulan berani main-main dengan harga. Inilah dampak yang kita inginkan sekarang. Mudah-mudahan di daerah akan bikin juga (Pasar Penyeimbang),” sambungnya.
Suryadi, Kepala Bagian (Kabag) Bina Sarana Perekonomian pada Biro Perekonomian Setda Kalteng, yang juga Sekretaris tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kalteng juga menyebut, andai tidak ada stok bahan pokok disediakan Pasar penyeimbang, mungkin sekali ketiika efen nasional Jambore Pemuda Indonesia (JPI) sepekan kemarin, akan dimanfaatkan pedagang jor-joran naikkan harga. “Namun buktinya kan tidak, selalu normal saja,”.
Angka inflasi pada Oktober 2016 berhasil dikendalilkan dengan baik menurut Suryadi, karena dilakukan tindaklanjut dari evaluasi bulan lalu dimana komoditas yang pengaruhi adalah dari sektor bahan makanan jadi, makanan, dan tembakau. “Dalam bulan ini memang ketersedian komoditas bahan pokok tersedia cukup. Ikan laut yang bulan kemarin terdampak gelombang namun sekarang sudah membaik,” terangnya. (M. MUHLAS ROZIKIN/N).








