BORNEONEWS, Palangka Raya - Kain Benang Bintik bukan sekadar pakaian. Kain batik khas Kalimantan Tengah ini adalah cerminan kekayaan budaya Suku Dayak, yang terjalin erat dengan filosofi kehidupan dan alam. Motif-motif khasnya, seperti Batang Garing (Pohon Kehidupan) dan Huma Betang (Rumah Adat), tak hanya indah, tetapi juga menceritakan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Kisah di balik kelestarian Benang Bintik tak lepas dari peran Bunga, pemilik Griya Benang Bintik Berkat Indah di Palangka Raya. Pada tahun 2000, Bunga melihat peluang besar dari banyaknya wisatawan yang mencari suvenir khas Kalteng. Sebagai putra daerah, ia merasa terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkan produk lokal ini. Keputusannya saat itu menjadi langkah awal dari perjalanan panjang dalam mempertahankan tradisi melalui selembar kain.
"Secara harfiah, Benang Bintik berarti kain (benang) yang diberi motif (bintik). Awalnya, motif utama yang digunakan adalah Batang Garing," ungkapnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Bunga berinovasi dengan menciptakan variasi motif baru tanpa menghilangkan nilai filosofis aslinya. Motif-motif baru ini terinspirasi dari guci, burung tingang, tameng, hingga tanaman lokal seperti bajakah dan kelakai.
Selain motif, pewarnaan pada Benang Bintik juga memiliki makna mendalam. Ada lima unsur warna utama yang dikenal sebagai 5 BA, yaitu Bahandang (merah), Bahijau (hijau), Bahenda (kuning), Babilem (hitam), dan Baputi (putih). Kombinasi warna ini melambangkan mamut menteng, yang artinya berani. Pengembangan terus dilakukan pada pewarnaan untuk menciptakan palet yang lebih kaya dan menarik.
Meskipun sukses, Bunga menghadapi kendala utama, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam membatik dan ketersediaan bahan baku yang harus didatangkan dari luar pulau.
"Saat ini, proses desain dan motif dilakukan sendiri, sementara proses membatik hingga pewarnaan masih harus dilakukan di Pulau Jawa," terangnya.
Namun, Bunga tak menyerah dan terus berupaya agar Benang Bintik dapat terus berkembang.
Untuk memasarkan produknya, Bunga tidak hanya mengandalkan toko fisik. Ia juga aktif memanfaatkan media sosial, berkolaborasi dengan Dekranasda, dan mengikuti pameran di berbagai daerah atas dukungan Bank Indonesia.
Dengan harga yang bervariasi dari Rp150.000 hingga Rp7.500.000, Benang Bintik menjadi pilihan yang menarik, sekaligus menjadi simbol kebanggaan akan warisan budaya Kalimantan Tengah. (SABRIANOOR/J)









