BORNEONEWS, Palangka Raya - Bagi atlet sepeda profesional, setiap kota di berbagai belahan dunia menawarkan petualangan baru. Namun, tidak banyak kota yang meninggalkan kesan mendalam seperti Palangka Raya di mata atlet sepeda internasional, Didi de Vries.
Gadis pirang nan cantik asal Goes, Belanda, ini memiliki kenangan yang kuat dengan ibu kota Kalimantan Tengah tersebut. Ia bahkan telah dua kali mengikuti kejuaraan di Palangka Raya, dan berhasil menjuarai UCI MTB Elimination World Cup 2024 tahun lalu.
Selain bertanding, Didi de Vries juga selalu menyempatkan diri untuk menjelajahi kota yang ia kunjungi. Pengalamannya di Palangka Raya sangat membekas karena perbedaan budaya yang ekstrem.
"Ini sangat kontras dengan kehidupan saya di Belanda, rumah-rumahnya sangat berbeda, begitu pula pusat kotanya." ucapnya ketika diwawancarai daring Borneonews, Sabtu, 30 Agustus 2025.
Kedatangan pertamanya pada tahun 2022 menjadi momen yang mengejutkan baginya. Sebagai orang Eropa yang terbiasa dengan fasilitas mewah, Didi mengaku tersadar akan realitas lain setelah melihat kehidupan di Palangka Raya.
"Kami, orang Eropa, begitu dimanjakan dengan segala kemewahan. Kedatangan saya ke Palangka Raya menyadarkan saya akan hal itu," tuturnya.
Ia terkesan melihat rumah-rumah sederhana yang berada hanya beberapa meter dari jalan raya yang ramai, pemandangan yang tak akan pernah ia temukan di Eropa.
Didi de Vries juga memberikan pujian tinggi untuk Palangka Raya sebagai destinasi balap sepeda. Menurutnya, kota ini sangat menantang dan menarik.
"Indonesia adalah negara yang menarik untuk menjadi tuan rumah piala dunia," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa perjalanan dan cuaca di Indonesia yang berbeda dari Eropa justru menjadi tantangan positif yang mendorong para atlet untuk tampil maksimal dalam kondisi apa pun.
Secara khusus, Didi sangat menyukai lintasan atau kondisi jalan untuk bersepeda di Palangka Raya. Ia menggambarkannya sebagai trek yang menuntut dan teknis, yang sangat cocok dengan gaya balapnya. Pujian ini tidak hanya datang dari seorang pembalap, tetapi juga dari seorang juara.
Di luar trek, Didi mengakui bahwa ia sangat menyukai tantangan yang dihadirkan oleh kota ini. Kesan mendalamnya tak hanya seputar balapan, tetapi juga tentang pengalaman budaya yang otentik. Perbedaan yang mencolok antara Palangka Raya dan Goes, tempat tinggalnya di Belanda, justru menjadi daya tarik tersendiri baginya. (SABRIANOOR/j)









