SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Hilangnya anggota Satintelkam Polres Kotawaringin Timur (Kotim), Bripda Muhammad Fadel, memasuki hari ke-10 dan menjadi sorotan publik. Kasus ini dinilai memerlukan penanganan cepat untuk menghentikan berkembangnya spekulasi liar.

“Saya melihat opini dan asumsi liar sudah sangat berkembang terkait persoalan hilangnya anggota intel Polres Kotim. Satu-satunya cara untuk menjawab semua itu adalah segera temukan yang bersangkutan,” kata Tasrifinnor, Dosen STIH Habaring Hurung Sampit, Sabtu, 30 Agustus 2025.

Menurutnya, waktu sepuluh hari adalah periode yang cukup lama untuk mencari seorang anggota polisi aktif dengan segala sumber daya yang dimiliki institusi Polri.

“Teroris saja bisa ditemukan. Saya rasa jika Bripda MF ini masih ada di Indonesia, seharusnya mudah ditemukan karena Polri memiliki kewenangan untuk mengakses berbagai lini yang berkaitan dengan aktivitas seseorang,” ujarnya.

Tasrifinnor menekankan pentingnya pengungkapan kasus ini secara cepat di tengah tingginya tensi publik terhadap institusi Polri.

“Asumsi liar muncul karena lamanya publik menunggu tanpa hasil. Ini sangat merugikan Polri,” katanya.

Ia juga menyarankan pihak keluarga terus menanyakan perkembangan pencarian kepada Polres Kotim dan Polda Kalimantan Tengah. “Sebagai keluarga, mereka berhak mengetahui hasil pencarian dari kepolisian,” tambahnya.

Sementara itu, keluarga Bripda Muhammad Fadel, Fenti Indriyani, mengaku belum mendapatkan perkembangan signifikan. “Sampai hari ke-9 belum ada informasi keberadaan adik saya. Bahkan informasi sebelumnya tentang terdeteksi di Makassar ternyata tidak valid,” ujarnya.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik. Polres Kotim dan Polda Kalteng diharapkan segera memberikan kejelasan agar tidak muncul dugaan-dugaan liar yang merugikan semua pihak. (DEWI PATMALASARI/j)