BORNEONEWS, Tamiang Layang – Hari terakhir Festival Budaya Nansarunai Jajaka (FBNJ) 2025 Kabupaten Barito Timur berlangsung meriah dengan tiga lomba utama yang sarat nilai tradisi, yakni lomba masakan tradisional, lomba menganyam uwei atau rotan, serta lomba melukis ornamen khas Dayak Maanyan, Sabtu, 30 Agustus 2025.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Barito Timur, Herawani, mengatakan lomba masakan tradisional tidak hanya menghadirkan cita rasa kuliner, tetapi juga menghidupkan kembali resep warisan nenek moyang.
“Lomba ini mengingatkan kita pada resep-resep tradisional seperti sambal ramania, rebusan dengan bumbu laos dan daun katuk, serta olahan dari umbut rotan. Semua berbahan alami dan organik, jauh lebih sehat dibandingkan makanan cepat saji di era modern,” jelasnya.
Selain kuliner, keterampilan kriya khas daerah juga mendapat perhatian melalui lomba ipuru atau menganyam uwei. Menurut Herawani, keikutsertaan mayoritas peserta dari kalangan orang tua menandakan perlunya regenerasi keterampilan anyaman Dayak Maanyan.
“Sayangnya generasi muda sekarang tidak banyak yang bisa menganyam. Karena itu kami berharap ibu-ibu yang mengikuti lomba dapat mewariskan keterampilan ini kepada anak cucu agar tidak punah,” ujar Herawani.
Sementara itu, lomba melukis ornamen menjadi daya tarik tersendiri di penghujung festival. Tradisi melukis ornamen khas Dayak telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat, terlihat dari hiasan rumah adat maupun balai Kaharingan.
“Pesertanya kali ini kebanyakan anak muda. Hal ini menunjukkan ada harapan besar tradisi seni lukis ornamen tetap berlanjut, bahkan bisa berkembang lebih kreatif,” tutur Herawani.
Melalui rangkaian lomba tersebut, Pemerintah Kabupaten Barito Timur berharap FBNJ 2025 tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali tradisi yang hampir terlupakan, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur mereka. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









