KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapaus - Di balik ketenangan Sungai Kapuas yang mengalir di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, tersimpan sebuah permata sejarah yang tak ternilai. Mandomai, sebuah kelurahan di Kecamatan Kapuas Barat, bukan sekadar wilayah biasa.

Tempat ini adalah saksi masuknya peradaban dan penyebaran agama Kristen di Tanah Dayak, yang dibawa oleh para misionaris dari Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) Barmen, Jerman.

Perjalanan sejarah tersebut terpatri kuat di Gereja Immanuel, sebuah bangunan tua yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Didirikan pada tahun 1876 dengan bantuan Zending Barmen, gereja ini menjadi salah satu yang tertua di Kalimantan Tengah, bahkan di Kalimantan. Usianya yang telah lebih dari satu setengah abad menjadikannya bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga monumen hidup yang menceritakan kembali masa lalu.

Sejarah mencatat, Gereja Immanuel digagas oleh misionaris Jerman, C.C. Hendrich, yang tiba di Mandomai pada tahun 1869. Ia mendirikan stasi pekabaran Injil yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Makamnya pun berada di samping gereja, menjadi pengingat abadi akan dedikasi dan perannya yang krusial dalam menyebarkan ajaran Injil di wilayah ini.

Salah satu keistimewaan yang paling mencuri perhatian dari gereja ini adalah keberadaan mozaik kaca yang langka. Mozaik ini menggambarkan perjalanan hidup Isa Al-Masih.

"Mozaik sejenis hanya ada di tempat pembuatannya yang asli, yaitu di Barmen, Jerman," ungkap Yoane, salah satu jemaat GKE Mandomai, Jumat, 28 Agustus 2025.

Kehadiran mozaik ini menambah nilai historis dan artistik gereja, menjadikannya benda seni yang tak hanya indah, tetapi juga penuh makna.

Mozaik kaca tersebut menjadi simbol jembatan antara dua budaya yang berbeda, Jerman dan Dayak, yang bertemu dan berinteraksi di Mandomai. Mozaik ini bukan sekadar hiasan, melainkan narasi visual yang kaya, menceritakan kisah iman yang melampaui batas geografis. Keunikannya ini membuat Gereja Immanuel menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah dan wisatawan sejarah dari berbagai penjuru.

Pengakuan sebagai cagar budaya bukanlah tanpa alasan. Bangunan yang usianya melebihi 50 tahun ini memenuhi prasyarat untuk dilindungi dan dilestarikan oleh pemerintah. Meski berstatus cagar budaya, Gereja Immanuel hingga kini masih aktif digunakan oleh jemaat setempat untuk beribadah.

Mandomai, dengan Gereja Immanuel-nya, menawarkan lebih dari sekadar wisata. Tempat ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan historis. Ia mengajak kita untuk merenungi jejak masa lalu, menghargai keberagaman, dan memahami bagaimana sebuah perjumpaan budaya dan agama dapat membentuk identitas suatu tempat. Ini adalah kisah tentang iman, ketahanan, dan warisan yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi. (SABRIANOOR/H)