BORNEONEWS, Palangka Raya - Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof Muryanto Amin, menanggapi laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum dengan penuh perhatian.
Menurutnya, data tersebut menjadi pengingat penting bagi dunia pendidikan tinggi untuk segera beradaptasi dengan perubahan lanskap kerja global.
“Kita tidak bisa lagi memisahkan antara manusia dan teknologi. Keduanya kini berada dalam satu ekosistem kerja yang saling melengkapi,” ujarnya saat Upacara Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2024/2025 yang digelar pada 29–30 Agustus 2025.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa saat ini, sekitar 22 persen pekerjaan diselesaikan sepenuhnya oleh teknologi, 30 persen merupakan hasil kolaborasi manusia dan mesin, dan hanya 47 persen yang masih murni dilakukan oleh manusia. Prof. Muryanto menilai bahwa tren ini akan terus berkembang, dan perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam menyiapkan lulusan yang siap berkolaborasi dengan teknologi.
Lebih lanjut, diperkirakan pada tahun 2030, hanya 33 persen pekerjaan yang masih akan dikerjakan manusia secara mandiri. Sisanya, 33 persen akan menjadi hasil kerja sama manusia dan mesin, sementara 3 persen sepenuhnya diambil alih oleh teknologi.
“Artinya, batas antara manusia dan mesin semakin menipis. Kita harus mendidik mahasiswa untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami etika, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam penggunaannya,” tegas Rektor USU.
Prof. Muryanto juga menekankan bahwa mesin, otomatisasi, dan kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra kerja yang mengambil alih banyak tugas rutin dan berulang. Dalam konteks ini, peran manusia akan bergeser ke arah pengambilan keputusan strategis, inovasi, dan pengembangan nilai tambah.
“Inilah saatnya kita mendesain ulang kurikulum agar lebih responsif terhadap kebutuhan masa depan,” tambahnya.
Sebagai institusi pendidikan yang terus bertransformasi, USU telah mulai mengintegrasikan pendekatan interdisipliner dan teknologi digital dalam berbagai program studi. Rektor menegaskan bahwa kolaborasi antara fakultas teknik, sosial, dan kesehatan menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang adaptif dan relevan. “Kami ingin lulusan USU tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap berinovasi,” katanya.
Dengan tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh era digital, Prof. Muryanto mengajak seluruh sivitas akademika untuk tidak takut terhadap perubahan.
“Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan korban dari disrupsi. Pendidikan tinggi harus menjadi ruang aman untuk bereksperimen, berkolaborasi, dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” tutupnya dengan penuh optimisme.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Senat USU, termasuk Prof Rahmawaty, Prof Ita Darlan, dan Prof Erman Munir. (TESTI PRISCILLA/H)









