BORNEONEWS, Kotawaringin Barat - Musim hujan ditambah cukup banyaknya lalu lintas kendaraan, menjadikan kondisi jalan poros Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama (Kolam) rusak semakin parah. Hal tersebut nyaris membuat pekerjaan proyek yang dijalankan pemerintah daerah sia-sia atau tidak efektif. Selain itu, kondisi rusak ini juga mengakibatkan munculnya pungutan liar (pungli) yang tersebar di sejumlah titik.

Salah seorang warga Kecamatan Kolam, Agus menyebut, kondisi rusak parah jalan Pangkalan Bun-Kolam dimanfaatkan oleh sejumlah kelompok warga untuk mencari keuntungan lewat penarikan pungli. Beberapa pekan lalu jumlah pungli di jalan yang sebagian besar masih berupa tanah timbunan tersebut sempat meningkat hingga sebanyak 10 titik. Namun para Jumat (4/11) berkurang menjadi 8 titik.

"Portal pungutannya kemarin ada 10 titik. Sekarang (4/11) jadi 8. Kalau jalan rusak. Rasanya sepanjang jalan itu remuk. Enggak bisa dihitung pakai jari tangan," kata Agus, Jumat (4/11).

Menurut Agus, dari 8 portal pungli tersebut, beberapa di antaranya tak hanya melakukan pungli kepada pengendara mobil saja. Namun juga kepada pengendara sepeda motor. Besaran pungli beragam. Untuk kendaraan mobil masing-masing portal biasaya memungut dana sebesar sekitar Rp5 ribu per kendaraan. Sementara untuk kendaraan motor dipungut sebesar kurang lebih Rp2 ribu per kendaraan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kobar, Agus Yuwono mengungkapkan, pihaknya mendukung permintaan pihak legislatif terkait pengerahan kendaraan alat berat membantu kendaraan yang terjebak jalan rusak di jalan Pangkalan Bun-Kolam. Namun, untuk saat ini pihaknya belum dapat menyiagakan alat berat di jalan itu. Sebab, apabila jalan tersebut di lintasi alat berat, jalan itu dikhawatirkan akan tambah rusak.

Kemudian, kondisi rusak parah di jalan Pangkalan Bun-Kolam sedikit banyak mengakibatkan pekerjaan proyek di jalan itu menjadi kurang efektif. Sebab, pemadatan dan penimbunan tanah persiapan peningkatan jalan yang dikerjakan oleh rekanan tertentu menjadi hancur akibat terlalu sering dilintas kendaraan bertonase besar.

"Kecuali yang sudah dilapisi dengan geotekstil. Kalau yang sudah ada geotekstil, akan cepat kering saat terkena hujan. Tapi karena sering dilintasi kendaraan jadi permukaan tanahnya menjadi tidak rata," kata Agus Yuwono, Kamis (3/11). (RADEN ARIYO/N).