BORNEONEWS, Palangka Raya - Organisasi Pemuda Lintas Iman menyampaikan pernyataan sikap atas situasi nasional yang memanas akibat aksi demonstrasi di berbagai daerah.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu, 31 Agustus 2025, mereka menyampaikan simpati dan dukacita mendalam kepada para korban, baik yang mengalami luka-luka maupun yang meninggal dunia.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus tetap menjadi landasan utama dalam menyikapi dinamika sosial-politik.
Para pemimpin organisasi lintas agama ini mendesak Pemerintah dan DPR untuk membuka telinga terhadap suara rakyat.
Organisasi Pemuda Lintas Iman ini diwakili Dzulfikar Ahmad Tawalla (Ketum PP Pemuda Muhammadiyah), Addin Jauharuddin (Ketum GP Ansor), Stefanus Gusma (Ketum PP Pemuda Katolik), Sahat Martin Philip Sinurat (Ketum DPP GAMKI), Kris Tan (Ketum Pemuda Konghucu), Putu Yoga Saputra (Ketum Pemuda Peradah), Wiryawan (Waketum Pemuda Gemabudhi), Masri Ikoni (Ketum Pemuda GPII) dan Ahmad Nawawi (Ketum Pemuda Mathla'ul Anwar).
Mereka menekankan pentingnya evaluasi terhadap kebijakan dan program yang dinilai membebani masyarakat.
"Dalam konteks ini, kami juga menyoroti peran partai politik, mendesak agar pimpinan partai segera menindak tegas anggota yang mengeluarkan pernyataan provokatif dan tidak berempati terhadap penderitaan rakyat," kata Ketum PP Pemuda Katolik, Stefanus Gusma dalam rilisnya.
Organisasi ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusifitas dalam menyampaikan aspirasi. Mereka menolak keras segala bentuk aksi anarkis seperti perusakan, pembakaran, dan penjarahan, yang justru merugikan sesama warga.
Seruan ini juga mengandung pesan moral agar masyarakat tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah, terutama yang menyangkut SARA.
Dalam semangat menjaga persatuan, Pemuda Lintas Iman mengingatkan akan bahaya penggiringan isu yang dapat memicu konflik horizontal.
Mereka menekankan pentingnya belajar dari sejarah, khususnya peristiwa kerusuhan 1998, agar tragedi serupa tidak terulang. Solidaritas lintas iman menjadi kekuatan untuk menolak kekerasan dan memperkuat kohesi sosial.
Kepada aparat keamanan, mereka meminta Polri dan TNI untuk bertindak secara terukur dan tidak represif terhadap demonstran yang menyampaikan aspirasi secara damai. Namun mereka juga menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap pelaku aksi anarkis yang memicu kerusuhan dan merusak fasilitas publik.
Keseimbangan antara menjaga ketertiban dan menghormati hak warga menjadi sorotan utama dalam pernyataan ini.
Sebagai penutup, organisasi ini menginstruksikan seluruh kadernya untuk aktif membangun ruang dialog bersama tokoh masyarakat dan agama, menjaga fasilitas umum, serta membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
Dengan semangat gotong-royong dan empati, mereka mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga Indonesia. Pernyataan ini ditandatangani oleh sembilan ketua umum organisasi kepemudaan lintas iman, sebagai wujud komitmen bersama untuk #JagaIndonesia.(TESTI PRISCILLA/R)









