BORNEONEWS, Kotawaringin Barat - Sosok Bripka Teguh Wahyudi (38) adalah polisi desa yang jempolan. Pria berwajah polos itu memiliki andil besar mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Teluk Pulai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pada 2015, Desa Teluk Pulai langganan lokasi Karhutla. Ribuan hektare lahan terbakar saat itu. Bahkan, kebakaran di sana merembet hingga Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Apa yang dilakukan Teguh? "Tidak banyak, hanya mengajak warga desa bicara dari hati ke hati," ucap Bripka Teguh Wahyudi kepada Borneonews di Mapolsek Kumai, baru-baru ini.
Anggota Polisi yang bertugas sebagai Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Desa Teluk Pulai itu, pernah diragukan sejumlah pihak pada awal masa penugasannya, tidak hanya warga desa, bahkan oleh atasannya (Kapolsek Kumai) pun demikian.
Namun, keraguan itu dijawabnya dengan berbagai keberhasilan yang mencengangkan. Usahanya mendekati sejumlah warga dan tokoh masyarakat, tak sia-sia. Ayah tiga anak itu mampu menyakinkan warga untuk tidak membakar lahan saat membuka lahan pertanian.
Pola yang digunakan untuk bercocok tanam pun cukup sederhana. Sebelum menanam padi, warga terlebih dahulu me-roundap ilalang dan rumput di lahan yang akan digunakan. Setelah ilalang dan rumput membusuk, warga mulai membajaknya.
"Selain tanpa bakar, pola itu juga hemat pupuk karena tanaman yang membusuk dapat menjadi humus sehingga bisa menyuburkan lahan pertanian," ujarnya.
Lahir dan besar di Singkawang, Kalimantan Barat, suami dari Yuliana ini paham betul kondisi tanah di dataran Kalimantan. Apalagi, polisi yang lulus dari pendidikan tahun 2000 itu tumbuh besar di lingkungan pertanian, dan saat inilah ia mengaku dapat mengaplikasikan pengalamanya bertani kepada warga desa.
Selain mencegah kebakaran lahan, pola itu ternyata mampu menjadikan Desa Teluk Pulai surplus beras. Sayangnya, besarnya hasil pertanian warga desa tidak terserap maksimal di pasaran. Ditawarkan ke Bulog, mereka mengaku harga yang ditetapkan petani terlalu tinggi.
Menjelaskan terkait harga beras yang tinggi, lantaran biaya produksi pertanian tanpa bakar memang relatif lebih besar dibanding pola bertani dengan cara bakar. Meski demikian, pria kelahiran 31 Oktober 1978 itu akan terus berupaya menekan biaya produksi pertanian warga.
"Setelah berhasil mengubah pola pertanian, kami akan cari cara menekan biaya produksi," bebernya.
Untuk itu, harap Teguh, pemerintah setempat dapat memberikan perhatian kepada warga. "Selama ini kami memang selalu mendapat perhatian dari pemerintah, namun belum maksimal. Alat bajak (hand tractor) dan pupuk bantuan belum mampu menekan biaya produksi pertanian warga," ungkap Teguh.
Ditanya soal gaji yang diterima apa dapat menutupi biaya transportasinya dari Kumai menuju Desa Teluk Pulai cukup, sontak saja ia tertawa lebar dan meminta untuk tidak membahasnya.
Asal tahu saja. Kumai-Teluk Pulai tidak dapat ditempuh melalui jalur darat. Ongkos yang dikeluarkan untuk pulang pergi sekitar Rp300 ribu. "Cukup tak cukup itu pintar-pintar kita, apalagi istri saya juga bekerja. Dengan jualan krupuk tenggiri, lumayan buat menutupi kebutuhan sehari-hari," cetusnya.
Sementara itu, Kepala Desa Teluk Pulai, Supiyadi mengakui Bripka Teguh Wahyudi memiliki kontribusi besar bagi pertanian warganya. Bahkan, Ia berharap pria yang sering disebut polisi desa itu tetap bertugas di wilayahnya.
"Selain berperan besar di bidang pertanian, Bripka Teguh Wahyudi juga aktif pada setiap kegiatan sosial di desa yang berada di pesisir Kabupaten Kotawaringin Barat itu. Kalau tidak pulang, Teguh biasanya tinggal di rumah warga atau rumah saya," ujarnya.
Apresiasi juga datang dari atasannya, Kapolsek Kumai AKP Hendry. Menurutnya, apa yang dilakukan Teguh berimbas besar bagi penanganan Karhutla di Kobar. "Lebih baik mencegah dari pada memadamkan. Perlu langkah tepat untuk melakukan pecegahan Karhutla, salah satunya yang dilakukan Bripka Teguh Wahyudi," tandasnya.(Fahruddin Fitriya/N).








