MUSIM penghujan telah tiba. Inilah kenyataan yang saat ini mulai bergulir, yakni mamasuki musim penghujan. Di berbagai daerah di Kalimantan Tengah, telah turun hujan secara berlebih. Sehingga banjir di sana-sini tidak terelakkan.

Sebagaimana kita ketahui, Kalimantan Tengah memiliki puluhan sungai besar dan kecil, lengkap dengan anak-anak sungainya.

Banjir di sana-sini sudah terlihat merendam lahan persawahan, jalan raya, permukiman, sekolah-sekolah.  Dan sebagaimana lazimnya,  hampir semua kota yang ada di Kalimantan Tengah, sangat rentan bahaya banjir.  Bukan hanya ibukota provinsi, kota-kota kabupaten, tetapi juga kota kecamatan bahkan perdesaan.

Setidaknya ada dua hal yang mempengaruhi adanya banjir di berbagai daerah. Pertama, banjir di tengah kota. Umumnya banjir di tengah kota diakibatkan oleh tata kelola perkotaan yang buruk. Seperti ketiadaan sanitasi yang baik. Got, gorong-gorong, parit di jalan-jalan kota, di gang-gang, mampet.  Hal ini akan bertambah buruk manakala  warganya tidak menjalankan tata kelola sampah yang baik pula.

Kota-kota yang sering terendam banjir karena persoalan sanitasi diantaranya Palangka Raya, Muara Teweh, Sampit, dan Pangkalan Bun.

Kedua, banjir yang diakibatkan oleh hilangnya daerah resapan air.  Banjir yang merendam daerah Arut Utara, Kotawaringin Barat tahun lalu misalnya, dicurigai sebagai akibat dari hilangnya resapan air di daerah hulu.  Camat Arut Utara Marwoto kala itu menyatakan,  banjir di daerahnya sebagai akibat dari penggundulan hutan  di hulu Sungai Arut.

 Daerah-daerah yang lazim dilanda banjir karena volume air yang besar dan karena sebab-sebab ekologis seperti hilangnya resapan air tadi, sering melanda daerah Pulang Pisau, Gunung Mas, Kotawaringin Barat (Kotawaringin Lama dan Arut Utara), Katingan dan sebagainya.

 Yang pasti, memasuki musim penghujan, semua pihak, terutama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial harus menyiapkan dua strategi antisipasi.

 Antisipasi jangka pendek, tentu berkaitan dengan logistik berbagai bantuan pangan dan obat-obatan. Selain itu juga bantuan evakuasi dan transportasi.  

 Yang tak kalah pentingnya adalah antisipasi jangka panjang. Yaitu menyangkut strategi perencanaan pembangunan kota yang berkelanjutan.  Meliputi penataan kawasan permukiman, sanitasi, pengelolaan sampah dan seterusnya. Berikutnya adalah memulihkan kembali daerah resapan air yang sudah beralih fungsi.