BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP Provinsi Kalimantan Tengah pada Agustus 2025 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, NTP Gabungan turun dari 132,95 pada Juli menjadi 132,81 di Agustus. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa NTP merupakan indikator penting untuk mengukur daya beli petani di perdesaan serta mencerminkan daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa konsumsi maupun biaya produksi.
Penurunan NTP tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar pada dua subsektor utama, yakni Hortikultura dan Peternakan.
“Subsektor Hortikultura mengalami penurunan paling tajam sebesar 4,84 persen, sementara Peternakan turun 2,11 persen. Ini menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup signifikan pada komoditas hortikultura dan hasil ternak,” ujar Agnes dalam siaran persnya pada Senin, 1 September 2025.
Penurunan ini berdampak langsung pada pendapatan riil petani, terutama yang bergantung pada komoditas musiman dan hasil ternak.
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Kalimantan Tengah justru mengalami kenaikan sebesar 0,26 persen pada periode yang sama. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga pada beberapa kelompok pengeluaran, seperti Makanan, Minuman, dan Tembakau (0,44 persen), Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (0,29 persen), serta Perlengkapan Rumah Tangga (0,25 persen).
“Kenaikan IKRT menunjukkan adanya tekanan inflasi dari sisi konsumsi rumah tangga, yang turut memengaruhi daya beli petani,” tambah Agnes.
Meski NTP mengalami penurunan, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) justru menunjukkan tren positif. Pada Agustus 2025, NTUP Kalimantan Tengah naik sebesar 0,05 persen, dari 137,13 menjadi 137,20. NTUP mencerminkan kemampuan petani dalam membiayai usaha taninya, sehingga kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha pertanian di tengah fluktuasi harga.
“Kenaikan NTUP menunjukkan bahwa meskipun daya beli secara umum menurun, efisiensi usaha tani masih terjaga,” jelas Agnes.
Agnes menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap dinamika harga komoditas pertanian dan konsumsi rumah tangga. Menurutnya, intervensi kebijakan yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas pendapatan petani dan mendorong ketahanan ekonomi perdesaan.
“Kami berharap data ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi yang mendukung kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Dengan fluktuasi yang terjadi pada NTP dan NTUP, BPS Kalimantan Tengah akan terus melakukan pemantauan dan publikasi rutin agar masyarakat, khususnya pelaku sektor pertanian, dapat mengambil keputusan berbasis data. Perubahan kecil dalam indeks ini mencerminkan dinamika ekonomi mikro yang penting untuk diperhatikan dalam perencanaan pembangunan daerah. (TESTI PRISCILLA/j)









