BORNEONEWS, Palangka Raya – Sejumlah daerah di Kalimantan Tengah mengalami banjir akibat tingginya intensitas hujan belakangan ini. Sejumlalh kawasan di tiga kabupaten --Pulang Pisau, Gunung Mas, dan Katingan-- terendam banjir. Dinas kesehatan Kalteng telah memasok bantuan obat obatan dan pemberian makanan tambahan (PMT) ke tiga daerah tersebut.

"Meskipun tidak ada permintaan penanganan, atau bantuan dari daerah yang kebanjiran, Pemerintah Provinsi Kalteng akan memasok bantuan obat, makanan, dan lainnya. Kami punya buffer stock yang bisa diperbantukan ke kabupaten. Kita bisa langsung berikan, apalagi ada permintaan. Tetapi emang belum ada permintaan kok dari daerah,” kata  Kepala Dinkes Kalteng, Suprastija Budi  di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (4/11/2016).

Suprastija mengemukakan, pihak Dinkes Provinsi menerapkan dua mekanisme, yaitu By activ dan proactive dalam menyikapi kejadian. Sebab menjadi bagian tugas pihaknya, adalah melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) ke sejumlah daerah. 

“Karena tugas kita monev, jadi sekalian saja, tidak nunggu diminta. Kita juga mengingatkan Kadis  semua daerah, peduli dengan data untuk ditindaklanjuti. Sejauh ini belum ada permintaan, namun kita sudah drop PMT terutama untuk ibu hamil dan anak, semuanya sudah ada, bahkan langsung ke puskesmas,” kata mantan Direktur RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya.

Pihak Dinkes mengingatkan agar instansi kesehatan di daerah yang sedang mengalami musibah banjir atau kawasan tergenang air, harus mewaspadai ancaman diare. Kata Suprastija, meskipun diare itu musim kemarau tetapi karena musim hujan maka banyak area yang tergenang menyebabkan sanitasinya terganggu.

“Ketika sanitasinya terganggu itulah kemudian sulit mendapatkan air bersih, itu dampaknya ke diare. Makadari itu kita imbau untuk mewaspadainya. Berikutnya adalah waspada demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini menjadi masalah karena cuaca berubah-ubah,” jelasnya.

Pihaknya mengkaim, sejak Agustus 2016 sudah monitor dan mengingatkan masyarakat untuk kebersihan lingkungan mereka dan pencegahan melalui program satu keluarga satu Jumantik. Tidak hanya untuk antisipasi DBD, petugas Jumantik itu sekaligus untuk pengamatan malaria. 

“Namanya kalau sudah KLB itu tidak milih-milih. Sudah ada Jumantik itupun kadang masih kecolongan. Di Kotawaringin Barat, kalau KLB itu belum, tetapi ada kasus kematian memang iya, tetapi itu belum status KLB. Tteapi itu karena keterlambatan dalam melakukan penanganan,” tutupnya. (M. MUCHLAS ROZIKIN/N).