PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kasus dugaan African Swine Fever atau ASF kembali mencuat di wilayah Kota Palangka Raya.

Kepala Puskeswan Kalampangan, drh Eko Hari Yuwono mengonfirmasi adanya temuan kasus ASF pada populasi ternak babi di Kelurahan Sabaru.

Dari total 65 ekor yang dipelihara warga, lima ekor menunjukkan gejala klinis yang mengarah pada suspect ASF, dan dua diantaranya telah mati.

“Gejala yang kami temukan meliputi demam tinggi, lemas, serta perubahan warna kulit pada bagian telinga dan perut. Dua ekor yang mati telah kami ambil sampelnya untuk uji laboratorium,” ujar drh Eko pada Rabu, 3 September 2025.

Pihaknya telah melakukan langkah-langkah penanganan awal untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Tim Puskeswan telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan investigasi epidemiologi dan memberikan edukasi kepada peternak. Selain itu, dilakukan penyemprotan disinfektan di kandang-kandang terdampak dan sekitarnya.

“Kami juga mengimbau agar peternak tidak memindahkan ternak ke luar wilayah sampai hasil laboratorium keluar,” tegas drh Eko.

ASF merupakan penyakit viral yang sangat menular dan mematikan bagi babi, namun tidak menular ke manusia. Meski demikian, dampaknya terhadap ekonomi peternak bisa sangat besar. Oleh karena itu, drh Eko mengingatkan pentingnya deteksi dini dan pelaporan cepat jika ditemukan gejala serupa.

Puskeswan Kapampangan saat ini tengah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya untuk memperkuat pengawasan dan respons cepat.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas. Pencegahan adalah kunci utama agar wabah ini tidak meluas,” tambahnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa biosekuriti di tingkat peternakan harus diperketat. Pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung upaya penanggulangan dengan menyediakan sarana pendukung dan memperkuat komunikasi lintas sektor.

Puskeswan akan terus memantau perkembangan dan memberikan laporan berkala kepada publik.(TESTI PRISCILLA/R)