BORNEONEWS, Nanga Bulik - "Nama saya Indah, tapi hidup ini ternyata tak seindah nama saya, Mas…” Itulah kalimat pertama yang disampaikan Indah Fajarwati, 34, perempuan beranak 3 asal Surabaya, Jawa Timur. Ia mengaku korban trafficking.

Dengan nada cukup tegas, wanita yang mengaku sedang mengalami permasalahan rumah tangga dengan suaminya itu mengaku tidak keberatan jika harus menceritakan pengalamannya hingga 'terdampar' di Lamandau, dan hingga menjadi 'pelayan'.

"Saya bersumpah bahwa sejak awal saya tidak punya niat kerja di tempat karaoke seperti sekarang ini. Saya berangkat dari rumah (Suabaya) dengan harapan saya bisa bekerja dan menafkahi anak-anak saya di kampung, karena suami saya sudah tidak menafkahi dan tidak pulang lagi ke rumah," katanya kepada Borneonews, di ruang pemeriksaan di Kantor Satpol PP Lamandau, Minggu (6/11/2016) pagi.

Sebulan lalu, tuturnya, ia menghubungi teman yang ada di Kumai (Kotawaringin Barat). Ia bilang ingin ikut mencari kerja. Setelah itu ia berangkat dan tiba di Kumai. Sesampainya di Kumai, ternyata rekannya juga sedang ada masalah dengan suaminya.

"Saat itu saya putuskan untuk tidak menemui teman saya yang saya hubungi sejak awal karena tidak enak (ada masalah). Saya mulai kebingungan. Singkat cerita saya dapat kenalan di daerah kampung Baru Pangkalan Bun dan ikut tinggal beberapa hari. Sembari nanya-nanya peluang kerja, sayapun meminta bantuan untuk dapat bekerja di manapun dengan kemampuan yang saya punya. Dari temannya kenalan saya itu ada arahan untuk mendaftar di perusahaan terbesar di Kobar," katanya.

Tanpa pikir panjang, sebutnya, ia menyiapkan surat lamaran, foto kopi KTP, foto kopi ijazah pendidikan dari SD samapai SLTA, dan beberapa persyaratan lainnya. Tapi tak ada kejelasan.

Indah juga menuturkan, situasi dirinya kian terhimpit dan tidak punya uang saku untuk bertahan. Ia pun lalu membantu masak di warung, sembari menunggu informasi lamaran kerja.

"Singkatnya, kisaran tanggal 31 Oktober lalu saya dibawa ke sini (tempat Karaoke Sagitarius), dan sampai sekarang. Untuk makan pun saya kadang pinjam ke teman-teman yang ada di sini. Kadang saya juga bantuin masak atau apapun termasuk melayani tamu, untuk sekadar bertahan hidup," kata dia.

Ia pun mengaku masih bingung dengan kondisinya saat ini, hingga dirinya merasa tertipu hingga harus berada di tempat karaoke. Padahal keinginannya bekerja layak seperti orang kerja pada umumnya.

"Kalau sampeyan pikir omongan saya main-main, buat apa saya berangkat jauh-jauh ke sini kalau hanya untuk kerja di tempat karaoke. Di Surabaya pun banyak kalau mau. Ngapain saya bawa ijazah lengkap. Secara tidak langsung akhirnya saya sekarang merasa tertipu dan merasa jadi korban jual-beli orang. Saya mau pulang juga bingung nggak punya uang. Mau ke Pangkalan Bun ngambil barang-barang yang masih dititip di sana juga nggak punya ongkos. Saya juga takut karena yang bawa saya ke sini (Lamandau) sudah di kasih uang pengganti dari Bos yang di sini. Sedangkan saya baru kerja sebentar," keluhnya. (HENDI NURFALAH/m)