PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Keberhasilan Pulau Salat sebagai pulau pra-pelepasliaran tidak hanya mencerminkan komitmen konservasi PT SSMS Tbk, tetapi juga menjadi model inspiratif bagi perusahaan-perusahaan lain dalam industri kelapa sawit. Dengan lebih dari 50 individu orangutan yang berhasil dikembalikan ke habitat aslinya, Pulau Salat menunjukkan bahwa konservasi satwa liar dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas bisnis yang berkelanjutan.

Dalam kunjungan benchmark yang dilakukan bersama IOI Group, para peserta diajak menyaksikan langsung proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan, termasuk pengelolaan area High Conservation Value (HCV) yang menjadi bagian integral dari lanskap konservasi SSMS. Kegiatan ini membuka ruang dialog lintas perusahaan untuk berbagi praktik terbaik, sekaligus memperkuat komitmen kolektif terhadap pelestarian spesies langka.

Chief Sustainability Officer PT SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo menyampaikan bahwa benchmark ini bukan sekadar kunjungan teknis, melainkan langkah strategis untuk membangun kolaborasi jangka panjang.

“Kami percaya bahwa tantangan konservasi tidak bisa diselesaikan sendiri. Kolaborasi lintas perusahaan dan pemangku kepentingan adalah kunci menjaga keberlanjutan ekosistem,” kata Henky dalam rilisnya pada Kamis, 4 September 2025.

Lebih jauh, Henky menambahkan bahwa SSMS terbuka untuk membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk lembaga konservasi, akademisi, dan komunitas lokal. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, SSMS berharap dapat memperluas dampak konservasi orangutan di Kalimantan Tengah dan sekitarnya.

Benchmark ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat narasi bahwa industri kelapa sawit dapat berkontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan.

"Melalui transparansi, inovasi, dan komitmen jangka panjang, SSMS ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang terus dikembangkan," katanya.

Dengan semangat kolaboratif dan visi keberlanjutan yang kuat, PT SSMS Tbk berharap Pulau Salat dapat terus menjadi pusat pembelajaran dan konservasi orangutan yang diakui secara nasional maupun internasional. Capaian ini menjadi bukti bahwa harmoni antara bisnis dan pelestarian alam bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan bersama.

Pulau Salat, yang terletak di Desa Pilang, Kalimantan Tengah, kembali menarik perhatian sebagai pusat pembelajaran konservasi orangutan. Kali ini, Tim Sustainability dari IOI Group yang dipimpin oleh Nazlia Syahputri melakukan kunjungan benchmark untuk mendalami praktik pengelolaan orangutan yang dijalankan oleh PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS melalui program pra-pelepasliaran di kawasan tersebut. (TESTI PRISCILLA/j)