PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam rangkaian The 15th Annual International Conference atau AIC 2025 yang digelar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 4-5 September 2025, Prof Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara tampil sebagai salah satu presenter dari Indonesia yang menyampaikan hasil penelitian bertajuk “Babalan Watershed: Current Status and Management Strategy Supports SDG.” Tidak sendiri, bersama Prof Rahmawaty juga hadir perwakilan Indonesia lainnya yakni Sekretaris S2 Prodi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dari SPs USU, Dr Alief Aththorick dan Sekretaris S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dari SPs USU, Prof Delvian.

”Riset ini merupakan kolaborasi USU, Forum DAS Wampu yang diketuai oleh Prof Abdul Rauf dan Balai Pengelolaan DAS Wampu Sei Ular dengan Kepala Balai bapak Sigit,” kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Jumat, 5 September 2025.

Presentasi tersebut menjadi sorotan karena mengangkat isu strategis terkait pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babalan yang memiliki peran penting secara lingkungan, ekonomi, dan sosial di Sumatera Utara.

Dalam paparannya, Prof Rahmawaty menjelaskan bahwa DAS Babalan merupakan salah satu wilayah tangkapan air yang tergolong kritis dan memerlukan pendekatan pengelolaan terpadu.

“Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi terkini DAS Babalan serta merumuskan strategi pengelolaan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Metodologi yang digunakan mencakup analisis Sistem Informasi Geografis atau SIG, survei lapangan, dan analisis data laboratorium,“ tuturnya.

Selain pendekatan teknis, penelitian ini juga melibatkan Focus Group Discussions atau FGD bersama para pemangku kepentingan untuk menggali perspektif lokal dan menyusun strategi pengelolaan berbasis analisis SWOT. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa daya dukung DAS Babalan memperoleh skor 94, yang menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 61 Tahun 2014 termasuk dalam kategori “sedang.” Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan, DAS

Babalan masih memiliki potensi untuk dipulihkan dan dikelola secara berkelanjutan.
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah kondisi sistem air di DAS Babalan yang dinilai cukup baik, ditunjukkan oleh nilai koefisien rezim aliran yang rendah.

“Artinya, kemampuan lahan dalam menahan dan menyimpan air tergolong baik, yang menjadi indikator positif dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan ketahanan terhadap perubahan iklim,“ tuturnya.

Prof Rahmawaty menekankan pentingnya pengelolaan DAS secara terintegrasi, dengan menitikberatkan pada kegiatan reforestasi, konservasi tanah dan air, serta inisiatif berbasis masyarakat. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan ketahanan DAS terhadap dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat partisipasi lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Konferensi AIC ke-15 ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi dan peneliti untuk berbagi gagasan dan solusi inovatif dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Kehadiran Prof. Rahmawaty sebagai perwakilan akademisi dari Sumatera Utara memperkaya diskusi ilmiah dan memperkuat komitmen Indonesia dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan inklusif. (TESTI PRISCILLA/Y)