SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur membandingkan kondisi Jembatan Patah, Jalan Kapten Mulyono yang memprihatinkan namun tak kunjung diperbaiki dengan Jembatan Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21, yang masih tampak kokoh namun dilakukan perbaikan total.

"Kayaknya Jembatan Kapten Mulyono lebih parah (dibandingkan Jembatan Lenggana), dan harus diperbaiki lebih dulu, tapi ini malah Jembatan Lenggana yang tampaknya masih aman diperbaiki," kata seorang warga Sampit, Alen Prasetya, Sabtu, 6 September 2025.

Dia menyebut Jembatan Patah sering kali mengalami kerusakan. Bahkan baru beberapa minggu dilakukan pemeliharaan oleh pihak terkait, akan cepat rusak lagi.

Jembatan yang terbilang sudah cukup tua itu kerap kali lepas baut, pelat besi copot, dan yang parah kayunya patah menyebabkan jembatan berlubang. Jika melewatinya pun harus bergantian dari arah selatan dan utara. 

"Kalau kita lewat Jembatan Patah itu suara gesekan kayu-kayu jembatan terdengar keras, apalagi ada truk-truk yang lewat. Kondisinya sering rusak, berlubang sangat mengkhawatirkan. Sedangkan Jembatan Lenggana dulu sekilas masih aman saja dilintasi," ujarnya. 

Ia memahami 2 jembatan tersebut berada pada kewenangan yang berbeda. Namun mestinya, hal ini menjadi contoh agar pemerintah daerah juga memperhatikan keamanan Jembatan Patah.

Jembatan Lenggana mulai dibongkar Juli 2025. Pengerjaan jembatan tersebut Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Tengah dengan anggaran bersumber dari APBN.

Sebelum proyek tersebut dimulai, PPK 1.3 BPJN Kalimantan Tengah Marhara Tua mengatakan, meski secara kasat mata Jembatan Lenggana terlihat kokoh namun kondisi struktur jembatan lama sudah sangat rusak. Marhara menyebut, nilai kondisi Jembatan Lenggana berada dalam kategori rusak berat.

“Nilai kondisi Jembatan Lenggana ini memang sudah rusak, sudah rusak berat. Jadi kalau dilihat itu ada bagian jembatan namanya abutment itu sudah patah, sudah terguling makanya ini kalau dibiarkan terus nanti akan lepas,” katanya, 22 Juli 2025.

Sementara Jembatan Patah, Jalan Kapten Mulyono yang memiliki nama resmi Jembatan Sei Mentawa 1 menjadi kewenangan Pemkab Kotawaringin Timur.

Saat rapat perubahan APBD 2025 dengan Komisi IV DPRD Kotim, Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengakui jembatan tersebut sudah lama menjadi keluhan masyarakat dan sangat vital dalam menunjang akses transportasi, namun proses pembangunan kembali masih menemui berbagai kendala.

Pihaknya tengah mengupayakan untuk melakukan perencanaan pembangunan pada APBD murni 2026. Perencanaan tersebut meliputi jembatan Sei Mentawa 1, Jalan Kapten Mulyono dan Sei Mentawa 2, Jalan Iskandar. (DEWI PATMALASARI/R)