BORNEONEWS - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi topik diskusi yang berulang setiap tahun. Menanggapi pertanyaan ini, ulama Ihtisamul Hasan melalui kanal pribadinya, memberikan pandangan yang menenangkan dan menyatukan.
Menurutnya, perdebatan tentang boleh atau tidaknya merayakan Maulid adalah hal yang tidak perlu diperuncing, sebab baik yang merayakan maupun yang tidak, keduanya sama-sama tidak salah.
"Kesalahan justru terletak pada sikap saling menyalahkan dan merasa pendapat sendiri yang paling benar," ungkapnya dalam channelnya, Sabtu, 6 September 2025.
Inti dari persoalan ini bukan pada ritual perayaannya, melainkan pada bagaimana umat Muslim dapat saling menghargai perbedaan pandangan. Sikap menghakimi dan menganggap pilihan orang lain salah adalah hal yang seharusnya dihindari.
Ihtisamul Hasan kemudian memaparkan beberapa dalil untuk mendukung pandangannya. Dalil pertama diambil dari Alquran, yaitu firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 58. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan umatnya untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya.
"Penafsiran dari Ibn Abbas, seorang sahabat Nabi, menyebutkan bahwa "rahmat" dalam ayat ini merujuk pada Nabi Muhammad SAW, sehingga bergembira atas kehadiran beliau adalah hal yang dianjurkan," paparnya.
Dalil kedua berasal dari sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Hadis tersebut menceritakan ketika Nabi Muhammad ditanya oleh para sahabatnya mengenai alasan beliau berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab, "Hari itu saya dilahirkan."
"Hal ini menunjukkan bahwa Nabi sendiri mengkhususkan hari kelahirannya dengan melakukan ibadah kebaikan, dalam hal ini puasa," jelasnya.
Dari dua dalil tersebut, Ihtisamul Hasan menyimpulkan bahwa memperingati hari kelahiran Nabi dengan amal kebaikan bukanlah perbuatan yang salah, melainkan justru memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Amalan-amalan baik seperti bersedekah, berzikir, atau mendengarkan ceramah agama yang sering dilakukan saat Maulid merupakan wujud syukur atas kehadiran Nabi.
"Memperingati hari kelahiran Nabi yang mulia tidak membutuhkan hadis yang sahih, melainkan membutuhkan hati yang sehat dan penuh cinta terhadap Nabi." ucapnya mengutip dari peribahasa arab. Kalimat ini menegaskan bahwa esensi dari perayaan Maulid bukan terletak pada validasi hadis yang ketat, melainkan pada ketulusan hati dan kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah.
Ihtisamul Hasan menyampaikan pesan penting untuk para ulama dan pemuka agama. Ia berharap agar mereka dapat terus memberikan edukasi yang menyejukkan mengenai perbedaan pandangan seputar Maulid. Tujuannya untuk mendorong masyarakat agar tetap menjaga rasa hormat terhadap berbagai pilihan orang lain.
Terakhir, Hasan menekankan pentingnya menghindari kritik dan fitnah terkait perayaan Maulid. Dengan demikian, momentum perayaan Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan sesama Muslim, alih-alih menjadi sumber perpecahan. Sikap saling menghargai dan memahami adalah kunci untuk menjaga kerukunan dalam beragama. (SABRIANOOR/R)








