KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Menurut Laporan Kebahagiaan Dunia 2024 yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Denmark menempati peringkat ketiga sebagai negara paling bahagia. Di balik pencapaian tersebut, terdapat sebuah filosofi hidup yang menjadi ciri khas budaya mereka, yaitu "hygge." Meskipun sulit diterjemahkan secara harfiah, "hygge" secara kasar dapat diartikan sebagai seni menciptakan kenyamanan, kehangatan, dan kebersamaan.

Popularitas "hygge" meluas secara global, sebagian besar berkat buku laris karya Meik Weking, "The Little Book of Hygge: The Danish Way to Live Well." Dalam bukunya, Weking mendefinisikan "hygge" sebagai "seni menciptakan suasana yang menyenangkan." Ini bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman yang dirasakan secara mendalam, menciptakan momen-momen penuh ketenangan, kebersamaan, dan relaksasi.

Christina Nielsen, seorang warga Denmark, memberikan gambaran lebih jelas mengenai praktik "hygge." Menurutnya mkmen ini menjadi kesempatan untuk melepaskan diri dari segala beban.

"Biasanya dalam tradisi Denmark, hygge adalah berkumpulnya baik kerabat maupun relasi untuk menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang sesuatu yang menarik sambil membakar jagung, ikan dan banyak hal lainnya," ungkapnya secara daring kepada Borneonews, Sabtu, 6 September 2025.

Lebih lanjut, Nielsen menjelaskan bahwa dalam pertemuan "hygge" tidak ada ruang untuk membicarakan masalah uang atau hal-hal rumit yang memicu ketegangan. Fokus utama adalah kehangatan, canda tawa, dan kebersamaan yang tulus. Filosofi ini menekankan pentingnya hadir sepenuhnya dalam momen tersebut, menikmati setiap detik kebersamaan tanpa beban.

Hygge tidak hanya terbatas pada pertemuan di dalam ruangan. Konsep ini juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan di luar, seperti bersepeda bersama atau menonton pertunjukan musik. Intinya, "hygge" adalah tentang menciptakan dan menikmati momen-momen yang membawa kebahagiaan sederhana, terlepas dari di mana atau bagaimana kegiatan itu dilakukan.

Semua yang terlibat dalam "hygge" hanya menikmati kesenangan. Hal ini menunjukkan bahwa "hygge" adalah tentang menghargai kualitas daripada kuantitas. Dalam dunia yang serba cepat, "hygge" mengajarkan kita untuk melambat, menikmati waktu yang terbatas, dan mengubahnya menjadi produktivitas yang berkualitas.

Filosofi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali ditemukan dalam hal-hal kecil, seperti kehangatan lilin, tawa bersama orang terkasih, atau sekadar momen damai di tengah hiruk pikuk kehidupan. Denmark menunjukkan kepada dunia bahwa mengejar kebahagiaan bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menghargai apa yang sudah ada. (SABRIANOOR/j)