KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Tradisi Baayun Mulud atau Baayun Maulid kembali marak digelar oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap 12 Rabiul Awal. Acara yang secara harfiah berarti "mengayun" atau "mengguncang buaian" ini menjadi momen sakral yang sarat makna, di mana orang tua mengayun bayi atau anak mereka sambil melantunkan syair-syair maulid.

Kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi rasa syukur dan cinta masyarakat Banjar terhadap Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjadi cara untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini.

"Baayun Mulud artinya kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW," ungkap Eben, seorang pemerhati sejarah Kesultanan Banjar, Sabtu, 6 September 2025.

Menurut Eben, tujuan utama dari tradisi ini adalah agar anak-anak Banjar kelak dapat meneladani akhlak dan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Baayun Mulud juga bertujuan mengajarkan anak-anak untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua mereka, menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup.

Lebih dalam lagi, Baayun Mulud memiliki akar sejarah yang unik. Tradisi mengayun anak ini sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Kalimantan Selatan, di mana masyarakat setempat masih menganut kepercayaan nenek moyang, termasuk Kaharingan. Setelah Islam datang, tradisi ini tidak dihilangkan, melainkan diadaptasi dan dipadukan dengan ajaran Islam.

"Tradisi ini dianggap sebagai konversi antara agama orang Dayak yang mendiami Banua Halat dan daerah sekitarnya, yang semula menganut kepercayaan Kaharingan dan kemudian memeluk agama Islam," jelas Eben. Perpaduan budaya ini menjadi bukti kearifan lokal dalam menerima dan mengintegrasikan nilai-nilai baru tanpa menghilangkan tradisi lama.

Secara historis, tradisi Baayun Mulud pertama kali bermula di Kabupaten Tapin, khususnya di Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara. Dari sana, tradisi ini menyebar dan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Maulid Nabi di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Pelaksanaan Baayun Mulud selalu menjadi momen istimewa. Anak-anak yang diayun mengenakan pakaian adat atau pakaian muslim terbaik, sementara orang tua dan sanak keluarga berkumpul bersama. Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti acara, di mana setiap ayunan seolah membawa harapan dan doa terbaik untuk masa depan sang anak.

Dengan demikian, Baayun Mulud bukan hanya sebuah ritual keagamaan, melainkan juga warisan budaya yang kaya akan makna. Tradisi ini mengajarkan harmoni antara keyakinan dan budaya, serta menjadi pengingat pentingnya menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral pada generasi muda, memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia. (SABRIANOOR/j)