BORNEONEWS, Kapuas - Jika diperhatikan seksama beberapa akun media sosial orang-orang Madagaskar, pulau di lepas laut timur Afrika, tak sedikit yang memiliki kemiripan dengan orang Indonesia.
Walaupun percampuran dengan ras negroid afrika telah mengaburkannua ,namun jejak khas wajah Indonesia masih terlihat.
Studi ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Molecular Biology and Evolution, pada tahun 2016 berjudul "Malagasy Genetic Ancestry Comes from an Historical Malay Trading Post in Southeast Borneo", telah memberikan kontribusi penting bagi ilmu pengetahuan dan pemahaman kita tentang sejarah migrasi manusia, termasuk Madagaskar.
Berdasarkan penelitian genetika yang mendalam, terbukti adanya hubungan kekerabatan yang kuat antara populasi di Madagaskar dan Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa migrasi besar-besaran dari Nusantara ke Madagaskar memang pernah terjadi ribuan tahun lalu.
Penelitian yang dipimpin oleh tim ilmuwan, termasuk Pradiptajati Kusuma dan Herawati Sudoyo, mengungkapkan bahwa nenek moyang orang Madagaskar memiliki percampuran genetik dari populasi Asia dan Afrika.
"Bagian genetik yang berasal dari Asia menunjukkan kecocokan tertinggi dengan DNA Suku Banjar, menjadi bukti kuat bahwa pelaut-pelaut dari Borneo memiliki peran penting dalam pembentukan populasi di pulau tersebut," ungkap tim peneliti dalam jurnalnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa migrasi ini berlangsung sekitar 1.000 tahun yang lalu. Mereka meyakini bahwa kelompok yang berlayar ke Madagaskar adalah para pelaut ulung dari Borneo. Migrasi ini diduga kuat terhubung dengan jaringan perdagangan maritim yang sangat aktif di Samudra Hindia pada masa lampau, yang dikuasai oleh pedagang-pedagang Melayu.
Menariknya, meskipun secara genetik Suku Banjar yang memiliki kecocokan paling tinggi, penelitian juga menemukan adanya kesamaan linguistik antara bahasa Malagasi, bahasa resmi di Madagaskar, dan bahasa Suku Ma'anyan, salah satu suku Dayak yang juga mendiami Borneo. Temuan ini menambah kompleksitas dan kedalaman hubungan historis antara kedua populasi.
Adanya kesamaan linguistik tersebut memunculkan hipotesis baru. Para peneliti menduga bahwa Suku Banjar merupakan percampuran genetik dari berbagai suku di Borneo, termasuk Suku Ma'anyan. Dengan demikian, bisa jadi kelompok yang berlayar dan akhirnya menetap di Madagaskar adalah percampuran dari beberapa suku, dengan genetik Suku Banjar yang paling dominan.
"Hal ini memunculkan hipotesis bahwa Suku Banjar merupakan percampuran genetik antara suku Melayu (77%) dan Ma'anyan (23%), dan kelompok inilah yang melakukan migrasi ke Madagaskar," ungkap analisa tim peneliti dari jurnal tersebut.
Selama ini, percampuran genetik Asia dan Afrika pada populasi Madagaskar telah menjadi misteri besar. Dengan menggabungkan data genetika, arkeologi, dan linguistik, studi ini berhasil memberikan bukti ilmiah yang kokoh dan menjawab pertanyaan tersebut.
Temuan ini tidak hanya menjadi kabar baik bagi dunia ilmiah, tetapi juga bagi Suku Banjar dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Ini menjadi bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut tangguh yang telah menjelajahi samudra dan membangun peradaban hingga ke belahan bumi lain.
Bagi yang ingin mengetahui lebih dalam kaitan antara jejak Suku Banjar di Madagaskar bisa langsung menyimak jurnal ilmiah tersebut. (SABRIANOOR/H)









