BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Ahli Teknologi Informasi (IT) dari Palangka Raya, Agung, yang juga teknisi dan programmer Agung Gallery Service, mengingatkan masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum melakukan dan menyadari potensi bahayanya.
Agung menjelaskan bahwa saat sebuah foto diunggah ke platform yang tidak aman, kendali atas foto itu langsung hilang. Bahkan jika foto sudah dihapus dari akun, data aslinya kemungkinan besar masih tersimpan di server.
“Kamu tidak tahu siapa yang bisa mengakses atau menggunakan foto tersebut,” ucapnya kepada Borneonews, Selasa, 9 September 2025.
Risiko paling mengerikan adalah foto-foto tersebut bisa dikumpulkan dan dijual di dark web untuk tujuan yang tidak senonoh. Menurut Agung, para pengembang AI punya salinan dari foto yang sudah diolah, sehingga mereka bisa menyalahgunakannya tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Belakangan, banyak video palsu yang dibuat dengan AI, menampilkan wajah tokoh publik diubah-ubah. Agung khawatir foto pribadi masyarakat bisa jadi sasaran selanjutnya, bahkan digunakan untuk membuat konten video dewasa (bokeh) yang sangat merugikan.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengunduh aplikasi di luar Play Store, bahkan yang ada di Play Store sekalipun.
“Banyak aplikasi bodong yang bisa jadi pintu masuk bagi peretas,” jelasnya.
Tanpa sadar, kita seringkali menyetujui berbagai izin akses saat mengunduh aplikasi tanpa membacanya. Agung menyebut, izin ini bisa memberi akses peretas ke galeri foto, data pribadi, hingga akun-akun perbankan dan media sosial kita.
Modus peretasan seringkali memanfaatkan aplikasi palsu seperti "pembersih" (cleaner) yang disusupi program jahat. Setelah terpasang, peretas bisa memantau semua aktivitas pengguna.
"Mereka bahkan bisa membuat "cermin" (mirror) dari layar ponsel kita. Semua yang kita ketik dan buka akan terlihat oleh peretas, termasuk saat kita memasukkan PIN atau kata sandi di aplikasi perbankan," paparnya.
Begitu semua data yang dibutuhkan sudah terkumpul, peretas akan melancarkan serangan. Mereka bisa saja membuat ponsel korban mendadak mati atau nge-blank, tanpa bisa diapa-apakan.
Proses peretasan ini bisa terjadi secara langsung atau melalui pemantauan jangka panjang. Hal ini membuktikan bahwa peretas bekerja dengan terencana, bukan sembarangan.
Pada akhirnya, Agung menekankan bahwa keamanan data adalah tanggung jawab pribadi. Jika data sensitif seperti KTP saja bisa mudah tersebar, maka berhati-hati saat mengunggah foto ke internet adalah keharusan. (SABRIANOOR/H)









