TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Warga Desa Didi di Kabupaten Barito Timur, mengeluhkan aktivitas angkutan batubara yang melintas di wilayah mereka. Keluhan terutama datang dari warga RT 03 yang merasa terganggu akibat material batubara berjatuhan hingga menutup akses jalan menuju rumah.

Salah seorang warga bernama Septiani (26), mengungkapkan keresahan itu sudah berlangsung lama tanpa ada penyelesaian yang jelas. Ia menilai perusahaan angkutan batubara seolah mengabaikan dampak sosial yang dialami masyarakat.

“Batu bara berserakan mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tapi juga menutup jalan masuk ke rumah. Kami merasa perusahaan tidak punya empati terhadap warga,” ujar Septiani, Rabu, 10 September 2025.

Ia menambahkan, meski pernah ada kesepakatan antara perusahaan dengan pemerintah desa mengenai tata tertib angkutan, kenyataannya aturan tersebut tidak dijalankan. 

“Sudah ada perjanjian di kantor desa, tapi tidak ditaati. Harapan kami perusahaan bisa berbenah. Kalau tidak mampu bertanggung jawab, setidaknya kurangi muatan agar tidak berjatuhan,” ungkap Septiani.

Menanggapi hal ini, Kepala Desa Didi, Yonsipur, membenarkan bahwa pihaknya sudah berulang kali menegur perusahaan. Menurutnya, teguran itu tidak hanya terkait batu bara yang berserakan, tetapi juga kapasitas muatan, kondisi jalan, hingga debu dan kebisingan yang ditimbulkan angkutan.

“Kami sudah membuat kesepakatan dengan pihak perusahaan. Mereka berjanji akan memperhatikan kapasitas muatan, memperbaiki jalan, serta mengganti terpal agar bisa menutup penuh bak tronton,” jelas Yonsipur.

Ia menegaskan, pemerintah desa akan terus mengawasi implementasi kesepakatan tersebut demi menjaga kenyamanan dan keselamatan masyarakat.

Kasus di Desa Didi ini kembali menyoroti persoalan klasik antara aktivitas industri tambang dengan dampak sosial bagi warga sekitar. Masyarakat berharap ada langkah nyata dari perusahaan agar roda ekonomi dapat berjalan tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan keselamatan mereka. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)