PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejak beroperasi sebagai pulau pra-pelepasliaran, Pulau Salat telah berhasil mengembalikan lebih dari 50 individu orangutan ke habitat aslinya di kawasan taman nasional.

Dalam kurun waktu delapan tahun, capaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi yang dijalankan oleh PT SSMS Tbk bersama mitra seperti BOS Foundation. Pulau Salat kini diakui sebagai salah satu titik penting dalam pelestarian orangutan di Indonesia.

Sebagai perusahaan yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, PT SSMS Tbk terus memperkuat pengelolaan area High Conservation Value (HCV) sebagai habitat penting keanekaragaman hayati. Fokus utama diberikan pada perlindungan orangutan, spesies endemik Kalimantan yang berstatus langka dan terancam punah. Konservasi di Pulau Salat menjadi wujud nyata upaya SSMS menjaga keseimbangan ekosistem.

Henky Satrio Wibowo, Chief Sustainability Officer PT SSMS Tbk, menekankan bahwa benchmark bersama IOI Group membuka peluang kolaborasi lebih luas dalam pengelolaan orangutan. Ia menyebut bahwa tantangan konservasi tidak bisa dihadapi sendiri, melainkan melalui kerja sama lintas perusahaan dan pemangku kepentingan.

“Konservasi bukan sekadar tanggung jawab, melainkan janji untuk masa depan. Dengan komitmen yang diwajibkan RSPO hingga 25 tahun ke depan, Pulau Salat terus dikembangkan dan dilaporkan secara rutin setiap tahun. Harapannya, kawasan ini kelak dapat menjadi pusat riset dan pembelajaran konservasi di Indonesia,” tegas Henky pada Kamis, 11 September 2025.

Kunjungan benchmark ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan orangutan di habitat alaminya. Pulau Salat kini bukan hanya menjadi rumah sementara bagi orangutan, tetapi juga simbol keberhasilan konservasi yang berbasis kolaborasi dan keberlanjutan.

Dengan semangat konservasi dan komitmen jangka panjang, PT SSMS Tbk berharap Pulau Salat dapat terus berkembang sebagai ruang belajar dan inspirasi bagi generasi mendatang. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pelestarian satwa liar dapat berjalan seiring dengan praktik bisnis yang bertanggung jawab. (TESTI PRISCILLA/H)