BORNEONEWS, Sampit – Dua pelajar SMPN 1 Sampit berhasil lolos mewakili Indonesia pada ajang lomba penelitian tingkat internasional yang akan digelar di Cyberjaya, Malaysia, pada 24–28 September 2025.
“Tahun lalu, kami didukung Dinas Pendidikan diberi kesempatan mewakili Kotim dan Kalteng pada kegiatan riset yang digelar mitra Kemendikbudristek. Ada 18 siswa yang masuk final nasional dan satu karya terpilih untuk ke tingkat internasional,” kata Kepala SMPN 1 Sampit Suyoso, Kamis, 11 September 2025.
Adapun dua pelajar yang akan tampil di ajang internasional adalah Elena Giselle Lantan dan Ilonka Rezky Hyzkia. Kedua pelajar ini akan mempresentasikan penelitian tentang pemberdayaan tumbuhan gelinggang (Cassia Alata L). Tanaman yang kerap dianggap pengganggu ini ternyata menyimpan banyak manfaat, terutama sebagai obat tradisional untuk penyakit kulit seperti kurap, panu, dan kudis.
“Karya anak-anak ini berbasis kearifan lokal. Tanaman gelinggang sering dipakai masyarakat Dayak untuk pengobatan tradisional. Inovasi ini kami pilih karena potensinya besar untuk dikembangkan,” ujarnya.
Untuk mendukung riset tersebut, pihak sekolah bekerja sama dengan Labkesda Kotim, SMP IT Arafah Sampit, tenaga ahli dari perusahaan swasta, serta didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kotim.
Dalam rangka persiapan, SMPN 1 Sampit menggelar publikasi karya inovasi di aula Disdik Kotim. Kegiatan ini juga melibatkan Bapperida dan Dinas Kesehatan guna memperkuat aspek penelitian sekaligus simulasi presentasi sebelum tampil di Malaysia.
“Nantinya karya ini bukan hanya milik SMPN 1 Sampit, tapi juga kebanggaan Kotim, Kalteng, bahkan Indonesia. Kami berharap doa dan dukungan masyarakat agar bisa meraih hasil terbaik,” tandasnya.
Kepala Disdik Kotim, Muhammad Irfansyah, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini luar biasa mengingat keterbatasan fasilitas laboratorium dan bahan penelitian di daerah.
“Jarang anak-anak kita bisa tembus nasional apalagi internasional. Keberhasilan ini bukti bahwa putra-putri Kotim mampu bersaing meski dengan segala keterbatasan,” ucap Irfansyah.
Ia berharap semakin banyak lahir peneliti belia dari Kotim yang mampu menggali potensi sumber daya alam lokal untuk inovasi yang bermanfaat.
“Inovasi bukan hanya soal teknologi modern, tapi juga bisa dari kekayaan alam kita. Karena itu saya berharap prestasi ini bisa berlanjut hingga jenjang SLTA,” tambahnya.
Irfansyah juga menekankan peran guru yang sangat besar dalam membimbing siswa. “Kolaborasi antara siswa, orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk keberhasilan mereka,” tutupnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









