SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim),  berupaya mengoptimalkan pembentukan bank sampah sebagai solusi penanganan sampah di wilayah tersebut.

Langkah ini diambil mengingat volume sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat Kotim mencapai 245,5 ton setiap harinya.

Kepala DLH Kotim, Marjuki, menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan setiap desa dan kelurahan memiliki setidaknya satu Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan satu bank sampah.

 "Minimal satu desa dan kelurahan ada satu TPS 3R dan satu bank sampah. Kita semua menjadi pelanggan. Dimulai dengan memilah sampah rumah tangga," ujarnya, Jumat, 12 September 2025.

Terutama di Kota Sampit. Marjuki menyebut kontribusi sampah terbesar berasal dari Sampit, yang meliputi Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang, dengan produksi sekitar 98,5 ton per hari. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah telah membangun tujuh depo sampah dan satu TPS 3R di dua kecamatan tersebut.

TPS 3R menjadi prioritas karena di tempat tersebut dilakukan pemilahan sampah organik dan nonorganik. Sampah yang masih bisa dimanfaatkan akan didaur ulang, sehingga hanya residu yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.

Keberadaan bank sampah dinilai sangat membantu mengurangi sampah melalui daur ulang dan menghasilkan nilai ekonomi bagi warga.

Warga dapat menyerahkan sampah yang bisa didaur ulang, seperti botol bekas, untuk ditimbang dan dihitung nilai ekonominya. Nominalnya kemudian menjadi tabungan yang bisa dicairkan sewaktu-waktu.

Saat ini terdapat satu bank sampah di Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang dikelola oleh pihak swasta di bawah binaan DLH. Marjuki berharap keberadaan bank sampah dapat diperluas ke seluruh kecamatan.

"Sampah yang masih bisa dimanfaatkan atau bernilai ekonomi itu kita pilah, sehingga sampah tidak lagi menjijikkan tetapi bisa diolah menjadi sesuatu yang menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi," pungkas Marjuki. (DEVIANA/R)