SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Sebagian pengendara memilih lewat jalan perusahaan untuk menghindar kemacetan panjang di Jembatan Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

"Memang harus memutar lebih jauh tetapi dari pada kita rugi waktu. Jadi kami memilih lewat jalan perusahaan," kata Wijaya, Jumat, 12 September 2025.

Jembatan Lenggana sejak bulan Juli 2025 dibongkar total sehingga arus lalu lintas untuk sementara dialihkan ke jembatan darurat. Namun jembatan alternatif tersebut kerap mengalami kerusakan karena batas tonase hanya 8 ton. Padahal jalur tersebut sangat vital dan sering dilalui kendaraan angkutan berat serta angkutan penumpang seperti bus.

Bahkan hari ini, kerusakan parah terjadi sejak subuh saat angkutan berat terperosok di tengah jembatan. Hal itu mengakibatkan jembatan tak dapat dilalui.

Berdasarkan informasi Satlantas Polres Kotim, jembatan alternatif tersebut dalam proses perbaikan dan diperkirakan baru akan selesai tangah malam.

Kondisi itu membuat sejumlah kendaraan roda empat kecil memilih melewati jalan perusahaan PT MAP di Km 18 tembus Km 29.

"Ini bukan kejadian pertama. Sudah berulang kali karena memang kita lihat jembatan pengganti yang disiapkan tidak sesuai dengan kondisi kendaraan yang sehari-hari melintas. Tentunya sangat merugikan dari segi waktu dan ekonomi," tandasnya. 

Adapun sebelumnya, pada Agustus 2025 diberitakan, perusahaan sawit membuka jalur alternatif khusus kendaraan kecil untuk mengurai kemacetan akibat perbaikan Jembatan Sei Lenggana di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 21, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Namun disisi lain kondisi tersebut membuat perusahaan dibayang-bayangi penjarahan sawit. 

Perbaikan Jembatan Sei Lenggana, yang dimulai sejak Senin, 28 Juli 2025, menyebabkan kemacetan panjang. Sistem buka tutup di jalan darurat membuat arus lalu lintas tersendat, terutama saat puncak kemacetan pada Selasa malam, 5 Agustus hingga Rabu pagi, 6 Agustus 2025, saat jalur ditutup total untuk seluruh kendaraan.

Melihat kondisi tersebut, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Mulia Agro Permai (PT MAP), membuka akses jalan kebun sebagai jalur alternatif untuk kendaraan kecil. Akses ini ditujukan untuk mobil travel, ambulans, mobil dinas, kendaraan pribadi, hingga sepeda motor.

“Kami membuka akses jalan kebun untuk kendaraan seperti mobil travel, ambulans, mobil pribadi, mobil dinas, dan sepeda motor. Ini sebagai bentuk empati kami terhadap masyarakat yang terdampak kemacetan,” kata Senior Manager Humas PT MAP, Tri Cahyo Juni Kurniawan, Rabu, 6 Agustus 2025. (DEWI PATMALASARI/H)