BORNEONEWS, Sampit – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Susilo optimis investasi smelter di Kecamatan Pulau Hanaut akan membawa dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.
“Rencana investasi smelter ini menandakan geliat industri yang luar biasa di Kotim. Beberapa tahun lalu saya menyebut Kotim sebagai Segitiga Emas Kalteng yang akan menjadi barometer ekonomi Kalimantan Tengah. Saat ini hal itu mulai terbukti dengan hadirnya investor besar,” kata Susilo, Sabtu, 13 September 2025.
Susilo menegaskan, pembangunan smelter tidak hanya memperkuat perekonomian daerah, tetapi juga menjadi peluang besar bagi masyarakat lokal.
Ia mengingatkan 3 hal agar diperhatikan investor dalam menjalankan usaha di daerah ini. Pertama mengedepankan kearifan budaya lokal, asas kesejahteraan yang berkeadilan dalam membangun sistem iklim investasi bersama masyarakat sekitar. Kedua, selalu memperhatikan faktor-faktor sosial yang ada di masyarakat.
Terakhir, pria yang menjabat sebagai Ketua KADIN Kotim dua periode ini menekankan pentingnya keterlibatan sumber daya manusia (SDM) lokal dalam operasional smelter. Menurutnya, 75 persen tenaga kerja harus berasal dari putra daerah, sementara 25 persen sisanya diisi oleh tenaga ahli dari luar.
“Dalam 2 sampai 3 tahun ke depan, tenaga ahli dari Kotim juga wajib diberi kesempatan. Putra daerah harus memiliki hak yang sama dalam bekerja, tanpa pembedaan,” ujarnya.
Susilo optimistis kehadiran smelter akan menjadikan wilayah selatan Kotim, khususnya Pulau Hanaut, sebagai pusat strategis ekonomi baru. Aktivitas industri diperkirakan akan memicu pertumbuhan sektor lain, mulai dari perdagangan, jasa, hingga peningkatan infrastruktur.
“Pembangunan smelter akan membuat daerah selatan semakin ramai, hidup, dan menjadi pusat ekonomi strategis yang membawa manfaat besar bagi masyarakat,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan di daerah ini akan ada investor membangun smelter tambang di Kecamatan Pulau Hanaut dengan lahan sekitar 16 hektare dari Pulau Cemeti hingga Babaung. Investasi besar ini dilakukan perusahaan yang sebelumnya sudah beroperasi sembilan tahun di Morowali, Sulawesi Tengah.
Halikinnor menyebutkan, investasi dilakukan 3 tahap dengan total nilai investasi Rp160 triliun. Smelter yang dibangun meliputi smelter bauksit, smelter silika, dan smelter batubara.
Proyek ini diharapkan menyerap ribuan tenaga kerja lokal, meningkatkan pendapatan daerah, serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Halikinnor juga menekankan agar perusahaan memberi perhatian pada CSR untuk pembangunan Pulau Hanaut dan mengutamakan keterlibatan pengusaha serta masyarakat setempat. (DEWI PATMALASARI/H)









