PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan biohidrokarbon berbasis kelapa sawit sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan.

Menurutnya kelapa sawit bukan hanya komoditas unggulan nasional, tetapi juga sumber energi baru dan terbarukan yang dapat memperkuat ketahanan energi nasional.

“Biohidrokarbon sawit memiliki struktur kimia yang menyerupai bahan bakar fosil, namun jauh lebih berkelanjutan,” ujar Eddy pada Sabtu, 13 September 2025.

Pengembangan biohidrokarbon sawit di Indonesia telah mendapat dukungan ilmiah sejak lama. Eddy menjelaskan bahwa penelitian katalis oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) telah dimulai sejak 1982, dan berlanjut melalui kerja sama strategis dengan PT Pertamina (Persero) sejak 2004.

Hasilnya, Katalis PITN 100-2T atau Katalis Merah Putih yang diuji pada 2010 menunjukkan performa lebih tinggi dibandingkan katalis komersial.

“Katalis ini menjadi kunci dalam mengubah asam lemak sawit menjadi biofuel yang menyerupai hidrokarbon fosil,” tambahnya.

Eddy mengutip temuan PASPI (2025) yang menyebutkan bahwa biohidrokarbon sawit memiliki lima manfaat utama: mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, menurunkan emisi gas rumah kaca, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri sawit nasional, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Ini bukan hanya soal energi, tapi juga soal ekonomi rakyat dan keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.
Proses produksi biohidrokarbon sawit melibatkan tahapan teknis yang kompleks, mulai dari pengolahan CPO melalui transesterifikasi dan hidrogenasi, hingga pemurnian dan modifikasi produk akhir.

Eddy menjelaskan bahwa proses transesterifikasi menghasilkan metil ester dan gliserol, sementara hidrogenasi menghasilkan hidrokarbon murni.

“Setiap tahap dirancang untuk memastikan kualitas dan efisiensi energi yang dihasilkan,” katanya.
Dalam hal teknologi, Eddy menyebutkan bahwa produksi biohidrokarbon diklasifikasikan ke dalam dua pendekatan utama: termokimia dan biokimia.

Teknologi termokimia seperti pirolisis dan likuifikasi hidrotermal memanfaatkan panas dan tekanan, sedangkan teknologi biokimia menggunakan mikroorganisme seperti ragi dan alga untuk mengubah biomassa menjadi biohidrokarbon.

“Keduanya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sesuai kebutuhan industri,” jelasnya.
Eddy menutup dengan optimisme bahwa biohidrokarbon kelapa sawit dapat menjadi solusi strategis dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan yang telah ditetapkan oleh PBB.

“Kami di BPDP berkomitmen untuk terus mendorong riset, investasi, dan kebijakan yang mendukung transformasi energi ini. Biohidrokarbon sawit adalah masa depan energi Indonesia,” pungkasnya.(TESTI PRISCILLA/R)